Jumat, 28 Mei 2010

Saat itu aku butuh sedikit empati dari mu. Tapi yang kau pusingkan hanya penampilan, sudahkah pantas hari ini pakaian ku?!!
Hari itu aku sangat membutuhkan mu. Aku ingin cerita. Aku ingin mengaduh. Aku membutuhkan telinga untuk mendengarkan ku. Aku tak minta dibantu ko’, aku juga tak minta nasehat ko’, aku hanya butuh pendengar.
Tapi apa yang kau lakukan? Apakah kau memberikan sepasang telinga mu untuk mendengarkan ku? TIDAK!!! Kau lebih memilih memulangkan ku hanya karena dan hanya karena…. PENAMPILAN KU YANG MENURUT MU TAK PANTAS!!!

Kuliah oh kuliah

Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan study ini. Aku tidak sanggup lagi belajar di suatu institusi, aku ingin bebas, tidak terkekang. Aku ingin merantau. Aku bosan dengan suasana yang itu-itu saja. Aku ingin tinggal di hutan tanpa perlu belajar dan hidup untuk hari itu saja. Aku ingin ke tempat-tempat yang mengagumkan.

Kesannya emang gak sukur banget, banyak anak yang mau kuliah tapi gak bisa karena masalah biaya. Tapi aku malah menyia-nyiakan kuliah ku. Bukan menyia-nyiakan si, dulukan aku sudah bilang, aku tidak bisa, aku tidak sanggup untuk kuliah lagi. Otak ku tidak sanggup. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran di Sastra Jepang ini. Betulkan??? Aku terancam Drop Out (DO), dan aku tak sanggup untuk membetulkannya.

Jadi buat apa aku tetap kuliah?
Aku buang-buang uang saja. Lalu apa kegiatan ku bila tidak kuliah? Hidup bergantung terus-terusan pada keluarga ku? Hidup seperti parasit?
Aku cuma ingin mengasah kemampuan menulisku. Harusnya aku masuk Sastra Indonesia saja. Aku ingin belajar fotografi. Aku ingin les menjahit. Hanya itu obsesiku tak lebih, haruskah aku bertitle sarjana?
Mengapa sangat susah keluar dari presepsi? Mengapa presepsi itu begitu mengekang? Memasung ku dan menjerat ku, hingga aku tak bisa kemana-mana? Ya.. aku telah melantur terlalu jauh kurasa.

Aku tak sanggup melanjutkan di Sastra Jepang ini. Aku sudah berusaha, sudah mencoba tapi tak bisa. Aku bakalan DO dan sudah tidak punya kemampuan untuk tes ulang lagi. Memori pelajaran SMA ku sudah terbang entah kemana (kecuali tentang pelajaran sejarah dan sosiologi, kurasa aku masih bisa mengingatnya).

Dari tadi aku mengeluh terus ya?
Ya ada yang aku dapat dari Sastra Jepang, itu tak bisa ku ungkiri.Teman-teman sastra ku, kebudayaan Jepang itu sendiri juga tentang buku-buku sastra Jepang yang berkualitas. Tapi itu pun tidak membuatku ingin tetap berada disana. Tidak! Demi Tuhan, aku merasa tersiksa.

Aku tidak malu bila di DO dan tidak menjadi sarjana, aku juga tidak masalah dengan hal itu. Tapi keluargaku? Haruskah aku membuat berderet-deret orang yang kecewa? Dan haruskah aku mengecewakan diri ku sendiri agar tak ada yang kecewa kepada ku?

Bunga Padang Pasir


Sungguh suatu keajaiban melihatmu tumbuh dan berkembang.
Juga suatu keajaiban melihatmu tak gentar didera panasnya mentari.
Kau tetap tumbuh dan memancarkan keelokan surgawi di tanah yang tandus ini.
Kau…
Bunga padang pasir…
Memancarkan harapan akan hari esok.
Kau bertahan pada sesuatu yang tampaknya tak ada harapan.
Kau tumbuh dan terus tumbuh.
Meski terus didera panasnya mentari, tandusnya tanah, kencangnya angin, dan usilnya tangan-tangan perusak.
Kau…
Bunga padang pasir…
Memberikan harapan
Menularkan optimisme.
Kau…
Bunga padang pasir…
Simbol kebangkitan kaum tertindas.

Kitchen

“Kalau manusia sama sekali tidak pernah merasa putus asa, kita tidak akan tahu bagian mana dari diri kita yang tak sanggup kita singkirkan. Lalu kita akan tumbuh dewasa tanpa benar-benar mengerti apa saja yang bisa membuat kita gembira.”
_Kitchen

Bagi yang sudah membaca bukunya Banana Yoshimoto; “Kitchen”, tentu sudah tidak asing lagi kan dengan kalimat diatas?!! Kalimat yang dikatakan oleh Eriko-san ini sejenak membuatku berfikir (merenung mungkin), tidak ada yang sia-sia di dunia ini, bahkan rasa putusasa pun mempunyai manfaat bagi diri kita. Novel ini segera membuat ku jatuh hati. Pertama membuka sampulnya yang berlatar putih dan hanya bergambar panci merah, kesan sederhananya sangat terasa, dan memulai membaca kata perkata kalimat yang terangkum membuatku… Bahagia? Hmmm… Aku tak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat di sini. Membuat ku melayang mungkin, keindahan kata-kata yang dia pergunakan sungguh membuatku tak bisa melepaskan buku ini hingga selesai.

Dalam satu buku Kitchen ini, kita bisa membaca dua cerita yang keduanya sama bagusnya. Cerita pertama berjudul Kitchen (yang dijadikan judul buku ini) dan cerita ke dua berjudul Moonlight Shadow. Secara pribadi aku sangat menyukai cerita kedua, Moonlight Shadow, yang begitu menyentuh menurutku.

Seperti biasa aku malas menuliskan sinopsis suatu buku, sudah banyak kurasa yang menuliskan sinopsisnya, jadi aku cuma mengomentari buku ini. Kusarankan bagi pecinta karya sastra untuk membaca buku ini. Kitchen ini betul-betul berbeda dari karya sastra Jepang yang pada umumnya berakhir tragis (kecuali pada manganya, tapi apakah manga suatu karya sastra?).

“Satu karavan sudah berhenti, satu caravan lain akan berangkat. Aku akan berjumpa dengan orang-orang baru; aku tak akan berjumpa lagi dengan sebahagian orang lain. Ada orang yang kelak akan meninggalkanku, ada orang yang hanya akan berpapasan denganku. Bahkan bila kita telah bertukar sapa pun, perlahan-lahan kenangan akan hilang. Aku harus tetap berjalan, seperti aliran sungai di depan mataku.”
_Moonlight Shadow

Share It