Selasa, 29 Juni 2010


Aku…

Seorang perempuan
Bukan hanya pelengkap di dunia ini
Aku seorang penyempurna

Tanpa aku, perempuan.
Dunia tidak akan ada artinya
Adam akan tetap di surga
Tanpa bisa menghargai kenikmatan surga
Tanpa aku, perempuan.
Adam tidak akan mengerti arti keindahan
Tanpa aku, perempuan
Adam bukan siapa-siapa
Bukan apa-apa

Karena aku kalian ada
Karena aku, Adam turun ke bumi dan menghargai kenikmatan surga.
Karena aku, Adam mengerti arti keindahan
Karena aku, Adam adalah siapa dan apa

Karena aku, perempuan.
_Makassar, 12 Juni 2010

Brown eyes


Honey yeah, it's no surprise
I got lost in your brown eyes
_brown eyes, Lady Gaga



Aku suka mata coklat itu,
Aku mengaguminya…
Mata itu teduh dan menawarkan kedamaian,
Mata itu bercerita tentang banyak hal,
Tentang dia…

Mata itu kadang berwarna coklat gelap bila ia sedang jengkel dan kesal, dan berwarna segelap malam jika ia marah. Marah yang tidak mau ia katakan, ia lebih memilih menjauh, menghilang bila marah. Bila ia sudah melakukan itu, membuatku juga marah, kesal, emosi. Aku lebih memilih dimarahinya, dibentaknya, diteriakinya bila ia marah. Tapi justru karena itu dia menghilang, agar jangan sampai membentakku katanya. Tapi aku tetap saja tidak suka, entah mengapa rasanya tidak diinginkan bila dia melakukan itu. Tidak dibutuhkan hanya diharapkan pada saat-saat tertentu saja.
Kadang mata itu berwarna coklat terang seperti tembaga cair. Kilatan jenaka ada disana juga sebersit senyuman. Mata coklat yang tersenyum adalah favorit ku.
Aku tahan berlama-lama menatap mata coklat itu. Ada kesenangan bila melakukannya, kebahagiaan… Aku pernah berkata dengan posesif, “Mata ini milik ku kan? Milik ku. Untuk ku!”, dan ya.. tentu saja dia mengatakan ia.

Bila aku seorang nenek sihir yang jahat, pasti telah ku ambil mata coklat itu dan ku kurung bersama pemiliknya agar bisa kupandangi setiap waktu. Akan ku masukkan ke dalam bola kristal ku dan ku bawa kemana-mana. Tapi tentu saja aku bukan nenek sihir, dan aku tidak berkeinginan memaksa mata coklat itu untuk selalu ada setiap waktu di sisiku.

Mata coklat itu begitu memikat tentu saja karena dia yang memilikinya….
Tidurlah gadis kecil
dalam mimpi yang abadi
Tidurlah sayang
sehingga tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu
Tidurlah…

_Makassar, 17 Juni 2010

Muak berita Ariel, Luna, dan Cut tari


Bukankah menyebalkan saat bangun di pagi hari dengan perasaan bahagia dan dipenuhi ilham tapi saat menyalakan TV yang ada hanya berita tentang video porno mirip Ariel, Luna, dan Cut Tari?

Muak rasanya melihat tayangan infotaiment yang tidak memiliki manfaat apapun selain menghujat dan mencampuri urusan orang lain. Gerah melihat wartawan-wartrawan infotaiment yang menguber-uber orang dan tidak memberikan privasi kepada orang tersebut. Wartawankah mereka? Atau hanya parasit-parasit yang hidup dari skandal orang-orang? Orang yang bersuka diatas kehancuran orang lain?

Aku bersimpati kepada Ariel yang saat selesai memberikan kesaksian di kantor polisi di kerumunin dengan para wartawan infotaiment itu. Aku bersimpati karena dia bisa menahan emosi dan hanya merusak kamera seorang wartawan tersebut saat di halang-halangi masuk ke mobil. Kalau aku mungkin sudah memukul wartawan tersebut dan sekalian aja kameranya ku injak-injak. Manusia mana yang tidak marah bila diperlakukan seperti itu??? Bayangkan saja kita seperti Ariel, kita sedang ditimpa kesusahan dan dari siang memberikan kesaksian di kantor polisi, tiba waktunya pulang malah dikerubunin dan tidak diberi ruang untuk bergerak dan masuk ke mobil. Manusia mana sih yang tahan dierlakukan seperti itu?

Lalu mengenai kasus video porno mirip Ariel, Luna, dan Cut Tari, aku muak sungguh muak dan rasanya ingin muntah saking muaknya melihat di TV. Muak dengan komentar-komentar SOK SUCI orang-orang itu. Video itu belum pasti merekakan? Dan bila memang mereka, terus kenapa? Itu urusan mereka dengan penciptanya, tidak usah memperkeruh suasana dengan mengomentarinya dengan komentar sok suci kalian. Toh bila memang mereka berdosa itu urusan mereka. Bila tidak suka dan tidak berkenan jangan nonton videonya, gitu aja ko repot!!!

Kurasa mereka hanya korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mungkin bisa menarik keuntungan dari hancurnya reputasi mereka. Aku lebih kecewa terhadap pemerintah beberapa kota yang mencegat mereka. Itu belum tentu mereka, tidak boleh seenaknya begitu dong. Lebih baik anda mengurusi rakyat anda, mensejatrakan mereka, dan membangun kota anda. Toh anda belum tentu lebih baik dari mereka. Yakin anda tidak memakan uang rakyat? Yakin anda tidak main perempuan diluar sana?

Ariel, Luna, dan Cut Tari hanya manusia biasa, dan tiap manusia pasti pernah punya salah. Salah dan benar, baik dan buruk itu pun bukan kita yang menilai, itu kuasa Tuhan. Jangan mendahului-Nya sahabat.

Sabtu, 12 Juni 2010

Anak-anak Lelong



Aku kagum dengan seorang anak kecil yang kujumpai saat membeli ikan di lelong untuk ransum di samalona nanti. Dia seorang anak lelaki yang putih dan kurus kering. Tapi jangan sangka dia lemah, dia sanggup membawa dua kantong besar pelastik yang berisikan ikan-ikan yang besar. Dia kewalahan memang, tapi dia tidak sedikitpun mengeluh.

Mungkin bagi kalian yang tidak pernah menjejakkan kaki di pasar lelong yang juga kuakui baru pertama kalinya kudatangi, bertanya-tanya, apa yang dilakukan seorang anak kecil di sana? Tapi bukan hanya dia yang ada di sana, banyak anak kecil di sana, laki-laki dan perempuan. Mereka menjadi kuli pengangkut, mengangkut ikan-ikan yang telah dibeli oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Mereka tidak menetapkan tarif, berapapun, seikhlas ibu-ibu dan bapak-bapak
Kembali kepada si anak kecil yang kukagumi, aku hanya berani bercerita tentang dia, bukan tentang anak-anak lelong secara keseluruhan, karena aku hanya mengenalnya, itupun tidak sampai setengah jam dan aku tidak tahu apakah dia mewakili sifat anak-anak lelong lainnya atau hanya dia yang berbeda.

Dia sering tersenyum selama kami bertemu. Aku menyesal tidak mengajaknya bicara, aku hanya diam seperti nyonya-nyonya besar yang merasa malu berdekatan dengan anak-anak pasar. Jika bisa memberikan pembelaan, saat itu disekitar kami sangat bising dengan suara-suara penjual ikan yang menawarkankan dagangannya juga suara pembeli yang berusaha menawar serendah-rendahnya dan nelayan yang berteriak “Minggir-minggir”, saat mengangkat ikan-ikannya ke penjual. Juga ketidaknyamanan ku yang baru pertama kalinya melihat pasar ikan dengan mata kepala sendiri. Tentu saja aku membalas senyumannya dan juga senyuman penjual-penjual di sana. Begitu murah senyum orang-orang di sana. Kuharap mereka tidak melihat kerisihan ku di sana. Terlebih saat disuruh memilih ikan dan menawarnya, aku diam seribu bahasa, tidak mampu berkata-kata. Jika disuruh memilih cakar dan menawarnya, tentu aku bisa tapi ini dua hal yang sangat berbeda. Aku tidak tahu bagaimana rupa ikan yang segar dan berapa seharusnya harganya. Aku tidak tahu dan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Aku hanya tahu ikan laut yang enak itu ikan baronang, ikan kakap, ikan kudu-kudu dll, tanpa mengetahui rupa ikan itu sebelum terhidang di meja.Maka tugas itu kuserahkan kepada teman ku. Tamanku lah yang memilih ikan dan menawarnya dan aku serupa ekornya yang mengikutinya kemanapun. Aku memilih diam dan mengamati juga tersenyum-senyum membalas senyum orang-orang di sana.

Aku melihat anak itu, memperhatikannya. Dia mondar-mandir mengisi kantong pelastiknya dengan ikan-ikan yang kami beli. Sekali lagi tanpa rupa kesal dan tidak ada keluhan sedikitpun mengenai kami yang mondar-mandir tidak tentu arah dan belum yakin ikan apa yang ingin dibeli. Dia kuat atau berusaha kuat.
Saat selesai membeli ikan yang lumayan banyak, saya dan teman ku bergegas menuju motor yang di parkir di luar. Aku menoleh sedikit, kulihat dia mulai tertinggal. Langkah kami yang tergesa-gesa mungkin menyulitkannya. Dia kadang berhenti dan meletakkan belanjaan kami sejenak lalu mengangkatnya lagi dengan lebih mantap dan menyusul kami. Aku berbalik dan meminta temanku agar lebih pelan berjalan, kasia anak kecil itu kewalahan.
Sesampainya di parkiran, teman ku menanyakan apakah dia tidak bersekolah? Yang dijawab dengan (juga!!!) senyum yang semakin melebar dan perkataan yang membuatku semakin kagum kepadanya; “Sekolah. Jam sepuluh nanti, ulanganka’.” Wow… Bukankah dia hebat kawan? Sepagi itu dia bangun untuk bekerja dan setelah itu sekolah lagi jam sepuluh, terlebih lagi harus ulangan. Kalau bukan karena ingin ke samalona bersama teman-teman ku, mungkin aku masih diranjang saat itu, memeluk guling dan terbuai mimpi indah. Tapi dia? Seorang anak kecil, tidak lebih berusia sembilan tahun, bangun sepagi itu untuk bekerja. Aku kagum apalagi bila membandingkannya dengan peminta-minta sepanjang pantai losari.
Aku memberikan uang kepadanya sebagai hasil kerja kerasnya mengangkat belanjaan kami. Sepuluh ribu tidak lebih, tapi diterimanya dengan senyum merekah dan sedikit loncatan senang dan ucapan terimakasih. Aku senang melihat reaksinya, saking senangnya sampai melupakan menanyakan namanya.
Dia pun berlalu dengan senyum terekah. Anak kecil yang kukagumi yang telah memberikan ku banyak pelajaran berharga dengan pertemuan kami yang tidak lebih setengah jam. Trimakasih atas pelajarannya. Semoga suatu hari nanti kau menjadi orang besar. Terimakasih, sekali lagi…

Jumat, 11 Juni 2010

Wahai yang kusebut dia

Ini tentang dia...
Dia yang tidak pernah puas akan apa yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dia merampas tanah kami
dia menghancurkan rumah-rumah kami
Tanah kami yang dulu subur dengan tanaman anggurnya kini telah rata dengan tanah.



Ya... Tidak hanya itu,
dia membunuh saudara-saudara kami, keluarga-keluarga kami.
Tak pandang bulu, istri-istri dan anak-anak kami dia habisi.



Lalu apa yang dilakukan dunia Internasional kepada dia!!?
Adakah?!!
Hapuskan saja PBB itu, hanya suatu perserikatan tanpa guna dan upaya.
Dia sang penjajah dibiarkan menjajah rumah kami, hidup kami.
Dia mendirikan negara diatas tanah kami, mengusir kami dari tanah kami sendiri, membiarkan kami di kamp-kamp pengungsian.
Hidup dengan terlunta-lunta...



Bukankah kita ini bersaudara, wahai yang kusebut dia?
Kita dari satu nenek moyang yang sama. Kita menarik garis keturunan dari Ibrahim, anak-anak Ibrahim.
Bukankah Ismail dan Ishaq tidak pernah mengajarkan kita merampas hak-hak orang lain, terlebih saudara sendiri?
Iblis apa yang meracuni kalian, wahai yang kusebut dia...

Tapi sayangnya ini tidak akan berakhir...
Kalian tetap melakukan perintah iblis, dan kami, akan terus melawan akan terus mencegah hingga nafas terakhir berhembus.

Dapat award lagi!!!!


Gak tahu kenapa dan gak nyangka juga bisa dapat award untuk kedua dan ketiga kalinya dengan award yang sama. Cuma bisa ucapin makasih buat Hart's Journal dan my rainbowisland atas awardnya.

Award ini saya teruskan kepada:
1. BUKAN VIONA
2. HONEY BEE-MITSUBACHI

aduh siapa lagi ya???
suka pusing kalau harus nentuin blog siapa yang patut dapat award :)

Aku akrab dengan perpisahan,
aku akrab dengan kesedihan,
tapi dari sanalah aku mengenalnya
menyatukan kami

Aku seperti Rumi yang bertemu kekasih
Seperti Buddah yang meniadakan diri dalam ketiadaan spritual
TIDAK!!! Bukannya seperti, karena aku, Rumi, Buddah hanya seorang yang sama yang tahu bahwa kami tiada.

Share It