Rabu, 29 Desember 2010

Kutipan La Tahzan, Pikirkan dan Syukurilah

Pikirkan dan Syukurilah

Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.*

Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, anda memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.

Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.**

Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan, dan dua kaki.

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?***

Apakah anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedangkan kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus-menerus tiada henti? Apakah anda mengira bahwa berdiri tegak diatas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedangkan keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?

Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.

Adakah anda ingin menukar mata anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran anda seharga perak satu bukit? Apakah anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah anda, hingga anda bisu? Maukah anda menukar kedua tangan anda dengan untaian mutiara, sebentara tangan anda buntung?

Begitulah, sebenarnya anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah, meskipun anda masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!

Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.****

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling anda. Dan janganlah termasuk golongan:

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.*****

KET:
*QS. Ibrahim:34
**QS. Luqman:20
***QS. Ar-Rahman:13
****QS. Adz-Dzariyat:21
*****QS. An-Nahl:83

Rabu, 22 Desember 2010

Ketika Hari Ibu...

IRI. Kata itu bagaikan kabut gelap yang menyelubungiku. Membuatku sesak dan tak bisa bernafas. Perasaan ini mungkin telah lama berada di sudut terjauh hatiku, bersemayam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kepermukaan. Setiap tahun di hari yang sama, tanggal 22 Desember, aku selalu merasakan perasaan ini. Iri...

Aku juga punya ibu dan tidak sepantasnya aku iri. Toh selama hidupnya, Andi' selalu memberikan yang terbaik untukku. Kasih sayangnya yang begitu besar mampu membuat kami menjadi perempuan seperti ini. Hanya saja perasaan negatif ini terus saja menggrogoti ku. Rasanya ada yang hilang, dan saat aku menoleh kesekitarku, semuanya mempersembahkan "sesuatu" untuk ibunya dihari ini.

Aku tahu aku bisa mempersembahkan doa untuk beliau di hari ini. Namun untuk apa??? Andi' telah berada (kalau boleh aku bilang bertahkta) di tempat yang terindah, di sisi Sang Kekasih. Yang bisa kulirihkan hanya rindu...

Apakah aku hanya mencari alasan? Alasan untuk merasa kurang? Alasan untuk tidak bersyukur? Sejujurnya aku tidak tahu.

Hari ini aku bermohon Tuhan, bermohon agar diizinkan dihari ini untuk bersedih, meratap, dan untuk menganggap hari ini sebagai hari berkabung. Hanya hari ini, mungkin cuma beberapa jam, setelah ini, aku akan kembali tertawa lagi. Aku janji.


Kasih ibu, kepada beta...
Tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi, tak harap kembali.
Bagai sang surya, menyinari dunia...

Sabtu, 11 Desember 2010

Kutipan catatan dari @MataNajwa

Ini merupakan kutipan dari acara Mata Najwa yang tayang tiap Rabu malam di Metro Tv. Aku mengutip catatan yang dibacakan mbak Najwa pas clossing acara ini :) Bagus deh.

"MEREKA DIBUNGKAM"

Penghilangan paksa, adalah metode universal para penguasa dunia. Penculikan,penembakan gelap,teror dan penghilangan orang dri atas udara, merupakan modus perang terhadap mereka yang dianggap musuh negara. Di Amerika Latin, di Afrika, di Asia Tenggara, kekerasan tanpa perikemanusian itu melembaga ke dalam negara, yg dikendalikan oleh rejim penguasa. Indonesia, tanpa kecuali. Sejak masa perang revolusi, hingga tragedi g30s yang menghabisi ratusan ribu simpatisan kiri..  ..dari kasus tanjung priok, hingga tragedi trisakti, tumpahnya darah kerap mengancam demokrasi. Mereka mati dibungkam, karena dituduh subversi. Dianggap mengancam keamanan dalam negeri. Mereka harus rela mati dibungkam, agar para preman berdasi, pelanggar HAM, dan penjahat korupsi aman terlindungi. Sadarlah, penguasa! Jaman sudah jauh berubah. Siapa bisa melawan keniscayaan sejarah? Kini bukan saatnya lagi, demokrasi harus tunduk pada moncong senjata terarah.

Topik ini kurasa diambil untuk memperingati hari HAM.

Share It