Rabu, 25 Mei 2011

Cerita Tentang Seorang Ibu

Hari itu seorang kenalan dikabarkan meninggal. Tante ku yang terbilang dekat dengannya, bercerita kisah hidup almarhuma kepada kami...

"Ini sebuah cerita tentang seorang ibu…

Saat seorang putri kecil keluarga itu meninggal, ia meninggalkan keretakan diantara kedua orangtuanya. Sang ayah menyalahkan sang ibu, begitupun sebaliknya, sang ibu menyalahkan sang ayah atas kejadian ini. Saling tuding diantaranya, menelurkan kekecewaan, kemarahan, kebencian, dan sakit hati. Puncaknya terjadi saat sang ayah mencari kedamaian pada pelukan perempuan lain. Perceraian pun sudah merupakan jalan satu-satunya.
....

Si ibu bersama ke tiga anaknya ditinggalkan pada sebuah rumah yang kosong dan beraroma duka. Sang ayah telah pergi tanpa pernah menengok kebelakang lagi…

Untuk menghidupi tiga anak bukan perkara yang mudah untuknya. Seorang perempuan cerai, hanya lulusan SMP, dan tak punya pengalaman kerja, kelimpungan mencari pekerjaan. "Aku ingat saat dia bertandang dari rumah kerumah sambil menggendong anaknya yang terkecil dan menggandeng ke dua anaknya yang lain di ke dua tangannya. Mencari sesuatu yang dapat ia kerjakan. Tak jarang ia bekerja di rumah ini. Mencuci, menyetrika atau sekedar membantu memasak.’ Ujar tanteku.

Kegigihannya dalam menafkahi ketiga anaknya sungguh patut diancungi jempol. Tak pernah menyerah atau berputus asa, asalkan kebutuhan ketiga anaknya tercukupi. Tak ada satu pun keluarganya yang mengulurkan pertolongan, entah karena kekurangan juga atau hanya karena tidak peduli. Sang mantan suami? Jangankan tunjangan untuk sang anak, batang hidungnya pun tak pernah kelihatan.

Begitulah tahun demi tahun, dengan bekerja serabutan ia mampu memenuhi kebutuhan mendasar ketiga anaknya. Hingga melonjaknya harga-harga pangan dan pendidikan serta terancamnya si sulung di keluarkan dari sekolah karena menunggak pembayaran satu caturwulan, membuatnya mengambil langkah drastis dalam hidupnya. Uluran tangan seseorang yang berjanji akan membiayai sekolah ke tiga anaknya dengan satu syarat; dia harus berpindah keyakinan. "Mungkin ini salah, tapi demi hidup yang lebih baik untuk anak-anak ku akan kulakukan apapun. Aku rasa Tuhan akan mengerti." Katanya.

Dan yah… ia keluar dari Islam tapi, hanya ia, ke tiga anaknya tetap ia pertahankan agamanya. Ia mendapatkan cercaan yang sangat keras dari para keluarganya, bahkan sempat, keluarganya tak ada yang mau berhubungan dengannya. Ia berkeyakinan dan berharap Tuhan itu Maha Mengerti, semoga dapat mengerti keputusannya. Toh ia masih mempercayai Tuhan itu Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Waktu terus berjalan…. Tak terasa, si sulung telah bekerja dan memiliki istri, si tengah telah menamatkan SMA-nya, dan si bungsu sedang bersekolah di sebuah pesantren. Dan suatu hari sang ibu pergi menemui si sulung dan berkata "Nak, bisakah ibu kembali beragama Islam lagi? Ibu rindu melantunkan salam serta salawat kepada Rasullullah." Ketahuilah telah sebulan ia menolak bantuan terdahulu dengan alasan sudah mampu menyekolahkan anaknya yang terakhir dan ia merasa masih banyak yang kesusahan di luar sana yang lebih pantas dibantu dibandingkan dirinya. Terlebih lagi, ia ingin kembali memeluk Islam.

Ketiga anak, menantu, serta keluarganya tentu saja sangat bergembira menyambut hal tersebut. Mereka membawa sang ibu ke mesjid dan dibantu oleh seorang uztad mengucapkan dua kalimat syahadat tiga kali. Si bungsu yang paling bergembira menyambut hal ini, ia selalu bersedih dan memikirkan nasib dan murka Tuhan kepada ibunya di dunia sana, nantinya. Mereka bergantian mengajar sang ibu mengaji yang telah lupa beberapa aksara Arab saat berpindah keyakinan dahulu. ‘Saat lebaran nanti, ibu akan bersama-sama kita saat solat ied! Aduh senangnya.’ Kata mantunya.

Kita boleh berencana dan Tuhan yang memutuskan. 3 bulan setelah beliau masuk Islam kembali, beliau meninggal. Hal itu awalnya menimbulkan ketidak percayaan pada beberapa keluarganya yang siang itu sempat beliau kunjungi rumahnya. ‘Dia tampak sangat sehat dan terlihat berseri-seri, tak ada tanda-tanda sakit. Pas mendengar kabar itu kami tidak percaya, lalu menduga ia mengalami kecelakaan diperjalanan sepulangnya dari rumah ini.’ Ujar salah satu keluarganya. Tapi tidak, ia meninggal dengan wajar. Ya, ia sempat muntah-muntah dan menelfon anak-anaknya agar berkumpul di rumahnya. Lalu si sulung, berkeras membawa ibunya ke rumah sakit. Dan sang ibu meninggal di sana, dikelilingi oleh ketiga anak dan mantunya, beruntunglah si bungsu sedang libur saat itu. Sehingga ia dapat melihat kepergian ibunya."

Aku terkesimah pada cerita yang tante ku sampaikan ini. Begitu menyentuh, tentang cinta dan kasih seorang ibu. Mungkin ia salah karena berpindah keyakinan, tapi toh kita tak ada saat itu dan tak merasakan kesusahan serta kecemasan yang ia rasakan. Dan saya tak mau menghakimi seseorang, itu bukan tugas saya sebagai seorang manusia. Biarlah Sang Kekasih yang menentukan dosa tidaknya sang ibu tersebut. Saya berdoa untuk pengampunan Sang Kekasinh untuk beliau. Dan sebuah lagu kanak-kanak mengingatkan ku padanya…

‘Kasih ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi, tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.’



Senin, 16 Mei 2011

Kukuryu si Boneka Bantal Pertama Ku

 Kukuryu Si Ayam

Semenjak tergila-gila pada "craft", baru kali ini akhirnya saya memberanikan diri membuat hasil karya sendiri. Dan inilah.... "Kukuryu" si ayam!!! Merupakan boneka bantal pertama ku. Hihihi... Semuanya ku jahit pake tangan, bahkan polanya pun aku gambar sendiri. Meskipun hasilnya belum sesempurna keinginan hati, tapi senang banget akhirnya bisa membuat sesuatu \(^O^)/. Oh ia Kukuryu dibuat dari kain flanel yang diaplikasikan dengan potongan perca dan diisi dakron.

Selanjutnya harus dijahit lebih rapi lagi :)


Hihihi... Papu sekarang punya teman main :p

Sang Mata

Sesosok mata mengintip dari balik dedaunan di malam saat ku melepas kepergian mu....

New Style Papu

Aku pernah bercerita tentang boneka beruang kesayangan ku: "Papu" (psttt... jangan kaget melihat tulisan ku yang sangat ababil kala itu), teman setia yang selalu menemani ku. Karena sayangnya aku dengan boneka itu, kemana-kemana selalu kubawa, bahkan, teman-teman ku sudah tak ada lagi yang tidak mengenalnya :p

Akhir-akhir ini keimutannya terlihat berkurang dan gaya berpakaiannya telah ketinggalan zaman. Baju-baju yang ku belikan untuknya pun telah kumal. So... Untuk sebentara ini kubiarkan ia bugil dan berpita merah saja :)



 Dia imut kan :*

Minggu, 15 Mei 2011

Mimpi

Aku duduk termenung di dalam sebuah kendaraan yang berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan yang pasti. Aku merasa kendaraan ini hanya berputar-putar saja. Sebenarnya aku tak tahu bagaimana dan mengapa aku bisa berada di kendaraan ini, dan yang semakin aneh, aku tidak peduli. Aku merasa nyaman dan tenang. Kehawatiran berada jauh di sudut kesadaran ku, bagai suara ombak membentur bibir pantai yang didengarkan di sebuah kota yang hingar bingar dengan kesibukannya.
Kadang kupalingkan wajahku dan memandang keluar, deretan-deretan warna berbayang kabur, saling menyatu dan melilit tak beraturan. Semua tak berbentuk! “Belum terbentuk”, bisik penumpang lain di sebelah ku. Kaget, aku memandang disekitar ku. Baru kusadari, aku tak sendirian di kendaraan ini. Beberapa orang yang asing sekaligus akrab berada disekitar ku. Aku merasa mengenal mereka, tapi siapa, dimana dan kapan tak jelas. Kuamati satu persatu, kupaksakan otak ku berfikir! Tapi memori itu terus saja tergelincir, aku tak bisa menggenggamnya.

Secepat datangnya kesadaran, secepat itu pula datangnya ketidakpedulian pada ku. Kembali ku palingkan wajah ku keluar.

“Silahkan turun!” ujar sopirnya pada ku. Turun? pada pusaran warna tak berbentuk? Pikiran itu sekilas mengganggu ku, tapi perasaan tak peduli kembali lagi menguasai ku. Aku turun. Dan merasakan kaki ku berpijak pada sesuatu yang padat dan menopang ku dengan sempurna. “Aspal”, kata ku saat mengamatinya dengan seksama. Lalu perlahan semuanya menjalin dan menyatu, membentuk sesuatu. “Ahh... aku kenal tempat ini” bisik ku tersenyum bahagia. Aku berjalan menujunya bahkan mulai berlari-lari kecil menuju tempat itu. Tempat terindah dan penuh kebahagiaan di dunia kecil ku dahulu. Semakin mendekatinya aku dipenuhi perasaan hangat dan penuh. Sedikit lagi... Ayo sedikit lagi...
.......

Aku seketika terbangun dan diliputi perasaan sedih, kecewa, penyesalan dan kerinduan....

_Makassar, Minggu 8 Mei 2011
11.36am

Minggu, 08 Mei 2011

Menanti Fajar


Coretan sepi di penghujung malam.

Penghargaan tak Terduga

Setelah dua award yang datang dari junior dan teman blog yang terasa entah sudah beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saya mendapat AWARD: AN INSPIRATION AWARD dari "Mbak Hany" Pojok Utak-atik. Tak ku sangka dan tak terduga aku bisa mendapatkan award ini, bagaimana tidak?!! Aku lah yang seharusnya memberikan award ini kepada Mbak Hany. Aku pengagum setianya :p

Thank and link back to the person that awarded this to you:
 Makasih Mbak Hany :) Mbak Hany selalu menjadi inspirasi saya, jangan bosan menjawab berbagai pertanyaan ku ya.
Give the award to 10 blogs which are all inspiring in their own ways. ie. fashion, religious, random, islam/religion.

10 Blog Yang menjadi Inspirasi saya dan berhak mendapat award ini:

Saya banyak belajar dari blognya kak Yusran, apalagi tentang kebudayaan.

Mas ini jago banget berkebunnya dan lukisan dikeramiknya keren banget. Saya mengincar botol bekas madu yang ia lukis :p cantik sekali. 

3. Meike
Anak ini paling jago menggalau di blognya! Tulisannya kadang bikin saya pengen buat puisi galau juga bahkan saat sedang bahagia :p
Berawal dari berkunjung ke blognyalah, hobby lama ku (menggambar) muncul lagi :) Gambarnya keren-keren banget!

Silahkan berkunjung ke blognya, dijamin kagum!!!

Mbak yang satu ini membuat tas dan dompet-dompet yang lucu sendiri, dengan jahitan yang sungguh sangat rapi :)

Satu lagi crafter Indonesia yang memberikan banyak inspirasi buat ku :) Oh ia, aku memenangkan giveaway yang blog ini adain loh \(^O^)/
Kodok terbang yang sering jalan-jalan, bikin iri aja :p Kapan-kapan pengen numpang jamur terbangnya ah... :D

Perhiasan yang Ira buat bikin saya pengen juga coba-coba membuat perhiasan sendiri :) Tapi peralatannya belum dapet ._.

10. Hmmm
Sajak, puisi, atau bahkan kisah pendek yang ia tulis sungguh membangkitkan kekaguman ku.
 

Giveaway Dari MYURBEY

Akibat keranjingan "craft", aku sekarang sering berkunjung dari blog ke blog para crafter Indonesia. Sangat menyenangkan, selain bisa mencuri ilmu mereka dan berbelanja, juga mereka sering membagikan "giveaway". Senang dong saya, geratisan :p hahahaha....Dan inilah, saat link dari satu blog ke blog lainnya, aku sampai ke MYURBEY yang sedang mengadakan giveaway, dan sungguh sangat sayang bila dilewatkan. "Giveaway"-nya berupa bantal yang terlihat sangat empuk.



Ayo ramaikan juga, di sini

Kamis, 05 Mei 2011

Kerendahan Hati yang Total

Ungkapan “Aku adalah Tuhan” bukanlah pengakuan atas keagungan. Melainkan suatu kerendahan hati yang total. Seseorang yang berkata “Aku adalah hamba Tuhan” menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. Sedangkan ungkapan “Aku adalah Tuhan” berarti peniadaan diri, yakni, dia menyerahkan keberadaan dirinya sebagai kekosongan (non-eksistens). Dikatakan “Aku adalah Tuhan” bermakna: “Aku tidak ada; segala sesuatu adalah Dia. Keberadaan adalah Tuhan sendiri, aku bukan keberadaan sama sekali; bukan apa-apa.” Pernyataan ini demikian luar biasa, lebih dari pengakuan terhadap keagungan apapun. Sayangnya, banyak yang tidak memahami.
_Jalaluddin Rumi, “Yang mengenal dirinya Yang mengenal Tuhannya”

Tapi mungkin lebih bijak untuk tidak mengatakannya, cukup yakini dalam hati.

“Jangan mengungkap rahasia kepada yang tak percaya. Jangan cerita kisah kekasih kepada yang terbuang. Jangan bicara dengan orang asing yang tak paham. Jangan bicara dengan onta pemakan duri kecuali tentang duri.” _Jalaludin Rumi

Senin, 02 Mei 2011

Mencintaimu, Memilikimu, Tapi tak Pernah Mendapatkan Hatimu.

Tiada perempuan di dunia ini yang kukasihi melebihi dirimu. Senyum serta tawa mu senantiasa membuat hari-hari ku berwarna. Aku sadar, aku akan selalu mencintaimu.
.....

Aku ingat disuatu masa saat kita masih kanak-kanak; saat kau sering bermain bersama adik ku di rumah kami. Kau gadis yang lemah, itu fikirku saat melihatmu. Cengeng. Aku menjuluki mu "Selang Air", saking seringnya dirimu mengeluarkan air dari matamu. Tak tahan ejekan anak-anak yang lain, kau bersembunyi dalam bayang-bayang adik ku yang perkasa. Kau lebih memilih bermain dirumahku dan menghadapi ejekan ku dibandingkan bermain diluar sana bersama anak-anak yang lain. Ya, ku akui, terkadang anak-anak memang kejam tanpa mereka sadari. Mengejekmu "Anak Haram" tanpa tahu arti dari kata yang mereka ucapkan. Mereka hanya mencontoh para dewasa berbisik-bisik dibelakang ibu mu.
Seiring waktu yang berjalan dalam hidup ku, hidup mu, hidup kita yang terbalut dalam kasih yang ditunjukkan dan diberikan keluarga ku kepada mu, benih-benih itu mulai muncul. Awalnya aku mengira, menyayangimu seperti aku menyayangi saudari ku. Tapi tidak, kepergian ku untuk melanjutkan pendidikan ku malah semakin menguatkan perasaanku padamu. Di kota itu, tempatku belajar, aku menyadari perasaan ini. Rindu yang menyesakkan hati ini hampir membuatku gila. Dan surat-surat balasan dari mu yang meskipun ramah dan bersahabat membuatku semakin sesak, aku sadar, kau menyayangiku layaknya seorang adik pada abangnya. Abang yang tak pernah kau miliki.
.....
Aku belajar mensyukuri apapun yang Tuhan berikan kepada ku. Setidaknya dekat dengan mu, membuatku merasa cukup. Cukup. Atau hanya dalam fikirku yang munafik ini!

Sepulangku, melihatmu dekat dengan dia, pemuda kota itu, membuatku terbakar cemburu. Marah sekaligus merasa bersalah. Marah, karena kau menatapnya dengan penuh cinta, tatapan yang senantiasa ku impikan. Bersalah, karena aku ingin kau bahagia, kau tak pernah sebahagia ini, tapi cemburu terus saja membakar dan menggrogotiku.

Kau tak tahu dan mungkin tak mau tahu, akulah yang menyarankan lelaki itu untuk menyepi di desa kita. Aku bahkan satu universitas dengannya. Bahkan, yang membuatku semakin marah dan merasa dikhianati, dia tahu kalau aku mencintaimu. "Aku tak pernah merencanakan semua ini, semuanya terjadi dengan begitu saja", katanya saat itu. Dan apa yang dapat kulakukan? Kalian saling mencintai, aku berada ditengah-tengah kalian, diantara perempuan yang kucintai dan sahabatku. Aku berusaha berbesar hati menerimanya, asalkan kau bahagia dan senantiasa tersenyum seperti ini.
.....

Dan betapa terlukanya diriku melihatmu hancur luluh lantak saat kepergiannya yang tiba-tiba. Tanpa pesan, tanpa nomor yang dapat dihubungi saat itu. "Ini salah ku", lirih ku saat itu. Seandainya aku tak mengusulkannya untuk kesini, ini tidak mungkin terjadi. Salah ku...

Kemudia aku mengambil kesempatan dalam hal ini. Aku melamar mu dan kau pun menerimanya. Kita menjadi sepasang suami-istri. Dan kau pun mengandung. Aku berharap kehadiranku dapat mengobati luka mu dan perlahan kau dapat mencintai ku. Dan semoga aku dapat menghapus bayangannya dari mata mu.
.....

Sepertinya harapan itu terlalu muluk. Kau menyimpannya di hatimu selayaknya perhiasan. Ketika malam, kadang kudapati dirimu membuka hatimu dan memandang perhiasan itu dengan duka dan cinta. Telah empat tahun usia pernikahan kira, aku tahu kau menyayangi ku dan bahkan mencintai ku. Cinta yang seperti apa, berwujud apa, itu masih sebuah misteri. Hingga saat ini...

Aku melihat mu tercengang memandang layar televisi. Matamu terpaku padanya, pada dia, bayangan dalam hidup kita, momok dalam rumah tangga ini. Seketika aku sadar saat melihat mu saat ini, hati mu tak pernah untuk ku.

 Ilustrasi diambil di sini

_Makassar, Sabtu 30 April 2011
1.01am

*Lihat cerpen sebelumnya "Ingatkah Aku?" di sini





Share It