Dan perlahan malam kesekian pun datang.
Turut kembali melantunkan nyanyian sepinya.
Hati memiris menatap bayangan.
Ketika mengenang mu tak jua kunjung habisnya.
Kapan pulang?
Aku menanti disini.
Kapan pulang?
Aku harap sebuah peluk hangat menenangkan.
Kapan pulang?
Aku butuh canda mesra denganmu.
Kapan pulang?
Aku mulai layu tanpa cumbumu.
Kapan pulang?
Aku rindu...
Kamis, 30 Juni 2011
Senin, 27 Juni 2011
Mengenang Mu
“Siapa perempuan itu Dit? Perempuan dalam setiap lukisan mu? Siapa ia?”
Ini sudah ketiga kalinya Kesya bertanya hal yang sama kepada Radit, seperti pertanyaan sebelumnya, ia hanya mendapat sorotan mata dingin penuh amarah dan kepedihan. “Siapa ia?” Bisiknya lirih….
…..
Entah mengapa akhir-akhir ini semua orang bersekongkol bertanya tentang mu. Tak tahukah mereka mengorek luka lama? Luka yang bahkan belum mengering, tak akan mengering, meskipun tentang mu telah bejarak empat tahun. Empat tahun sudah saat ku kembali dan melihat mu tengah hamil dalam gandengan sahabatku, suami mu…
…..
“Dit…?”
“Apakah itu penting Sya? Aku lebih suka bila tidak membahasnya. Tak pernah membahasnya.”
“Maaf… Hanya saja aku penasaran…”
“…..”
“Dit? Kau marah? Maaf… Aku hanya ingin tahu. Bukankah kita teman? Kau tahu semuanya tentangku, aku hanya ingin lebih mengenalmu, lebih dekat…”
“Itu hanya akan menyakiti mu.”
“Aku lebih merasa sakit bila berusaha bersaing pada perempuan dalam lukisan, perempuan yang bahkan namanya pun tidak kuketahui.”
“Kesya! Bukankah sudah kukatakan kepada mu?! Aku menganggap mu sebagai teman, adik, tak lebih Sya”
“Justru karena itu Dit! Ceritakan tentangnya, agar aku tahu. Agar aku tak berharap! Kumohon…”
…..
Semuanya bermula ketika ayahku berkeinginan aku kuliah dijurusan bisnis. Hal itu dipersiapkan agar aku suatu saat kelak, dapat menggantikan kepemimpinannya diperusahaan keluargaku ini. Disaat itu aku sangat ingin mengambil jurusan seni rupa tetapi, aku diharuskan, diwajibkan, mungkin lebih tepat bila kukatakan; dipaksakan, untuk kuliah bisnis. Dan ya… Dengan berat hati kuturuti kemauan beliau.
Kuliah dengan setengah hati menguras kewarasan ku. Aku kehilangan tujuan untuk hidup dan berusaha. Meskipun begitu, disana aku mendapatkan seorang sahabat. Kehadirannya mampu membuatku bertahan beberapa semester. Dia sudah seperti kakak untukku. Aku selalu menikmati cerita-ceritanya tentang sebuah desa kecil nan asri, tempat kelahirannya. Juga tentang seorang perempuan di sana yang ia cintai. Lalu ketika semua tak tertahankan lagi, dia jugalah yang menyarankan kepadaku agar mencari kedamaian hati di desa kelahirannya itu.
Aku pergi kesana bermodalkan petunjuk darinya yang tak dapat mengantarku karena padatnya jadwal kuliah, “Enam bulan lagi aku akan pulang, jika kau betah disana dan masih ada ketika aku pulang, akan kutunjukkan tempat-tempat terindah yang hanya aku ketahui disana.” Katanya saat itu. Setiba ku disana, aku memilih tinggal di sebuah penginapan kecil, dibandingkan dirumah keluarga sahabatku. Takut merepotkan dan sesungguhnya aku tak tahu akan berapa lama disini.
Ilustrasi di ambil di sini
Kuakui, desa itu memang sungguh indah dengan kesederhanaannya. Begitu mampu mendamaikan hati yang gelisah. Hamparan pegunungan dan padang rumput memanjakan mata ini yang setiap saat hanya memandang lautan beton. Ya, aku mulai kerasan di sana. Aku menghabiskan waktu ku disana dengan menjelajahi hutan-hutan dan padang rumput serta melukis, melukis, dan melukis.
Hingga suatu pertemuan dengannya, perempuan dalam lukisan itu, membuat ku merasa seperti hidup kembali. Sekali lagi, aku memiliki sesuatu yang pantas untuk kuperjuangkan.
Ia perempuan yang mungil, tingginya tak lebih dari bahuku. Rambut dan matanya sehitam malam dan kulitnya secerah mentari. Setelah mengenalnya, aku tahu ia lugu dan cerdas, sebuah perpaduan yang manis. Ia selalu menatapku dengan lekat, sorot matanya memancarkan perhatian total akan kata-kata ku, aku senang menemukan seseorang yang mau mendengarkan impian-impianku. Aku tak tahu dimana awal dari semua ini, yang ku tahu saat itu hati ini bukan lagi milik ku sendiri. Aku tak kuasa mencintainya.
Ketika kusadari ialah perempuan yang dincintai oleh sahabat ku, semuanya telah terlambat. Aku dan dia telah berbagi jiwa dan raga. Meninggalkannya sama saja dengan membunuh diri ku sendiri. Ini pertama dan terakhir kalinya aku merasakan perasaan seperti itu. Kuat. Sangat Kuat. Dan aku memutuskan akan menjelaskan segalanya kepada sahabatku, secepatnya, sebelum ia pulang.
Tapi aku menundanya dan terus menundanya, aku terbuai dengan kebahagian yang kumiliki saat itu hingga enam bulan berlalu. Sahabatku pun pulang… Ia marah. Tentu saja ia marah, murka dengan penghianatanku kepadanya. Aku berusaha menjelaskan kepadanya bahwa itu terjadi begitu saja. Cinta ini menguasaiku, aku tak lagi berfikir menggunakan otak, hati ini, seiring detaknya, mengambil alih fungsi otakku.
Seperti yang kau pun ketahui, ia lelaki yang baik, jauh… jauh lebih baik dari ku. Ia akhirnya menerima hubunganku dengannya, meski mungkin dengan berat hati. Saat itu persahabatan kami yang kukira akan hancur, berlanjut…
Aku ingin menetap di desa tersebut, menikahinya, dan membangun keluarga ku, bersamanya. Aku membeli penginapan itu dan membiarkan pemilik sebelumnya menjalankannya sebentara aku menyiapkan diri dan segalanya untuk melamarnya. Lalu semua rencana itu berantakan, ketika kabar ayahku terkena serangan jantung kuterima, aku pergi terburu-buru tanpa sempat meninggalkan pesan kepadanya.
Ayahku meninggal… Sebelum meninggal, ia membuatku berjanji melanjutkan kepemimpinanya diperusahaan keluarga ku. Aku dibuat sibuk dengan tetek bengek perusahan itu, hanya sempat mengirimkan sepucuk surat kepadanya, yang menjelaskan kenapa aku meninggalkannya dan mengapa belum kembali hingga sekarang, semoga ia mengerti. Surat itu kualamatkan kerumah sahabatku beserta sepucuk surat juga untuknya, memohon agar ia menjaganya sampai aku kembali, secepat yang aku bisa. Apakah surat itu sampai atau tidak? Atau memang sahabatku menghianatiku seperti aku menghianatinya? Atau memang aku hanyalah pengganggu diantara mereka? Aku tak tahu…
Tiga bulan waktu yang kuhabiskan untuk menstabilkan perusahaan itu yang sempat goyah saat kepergiaan ayah ku. Aku kembali kesana, dan mendapati ia tengah hamil dalam gandengan suaminya, sahabatku….
Aku meninggalkan tempat itu tanpa menyapa keduanya. Untuk apa?! Toh semuanya telah jelas! Aku telah tersingkir dari kehidupan mereka, selingan sebelum mereka menyatu. Pahit. Dan semenjak itu aku tak pernah kembali lagi kesana. Tak pernah. Meskipun aku takkan bisa melupakannya, sekejappun… Dirinya hadir disetiap detak jatuntungku. Mengingatnya, dan mengabadikannya dalam lukisan merupakan pelipur lara untukku...
Baca Cerpen Sebelumnya:
Label:
Sebuah Cerita
Selasa, 21 Juni 2011
[BIG, CITY, KID]
Minggu ini bisa dibilang minggunya wabah penyakit. Serumah pada kena flu. Tenggorokan sakit, hidung meleran, juga kepala seperti habis dipulu-pukul palu. Tapi syukurlah semangat berkarya tak juga padam :
Anne Frank dan Tentang Perempuan
Masih tentang Catatan Harian Anne Frank dan untuk pendapat Anne yang ini, saya tak akan memberikan komentar. Dia telah menuliskan semua yang patut untuk dituliskan.
“Satu dari pelbagai pertanyaan yang sering menggangguku adalah mengapa perempuan telah, dan masih, dianggap lebih rendah dibanding lelaki. Sangat mudah untuk mengatakannya tidak adil, tetapi menurutku itu belum cukup; aku benar-benar ingin mengetahui alasan dari ketidakadilan yang besar ini!
Sejak awal lelaki dianggap lebih unggul daripada perempuan karena kekuatan fisik mereka yang lebih besar; kaum lelaki yang mencari nafkah hidup, menurunkan anak-anak dan melakukannya sesuka mereka… Sampai sekarang, perempuan hanya diam mengikuti anggapan yang bodoh ini, karena mereka sudah lama terkungkung, itu seolah sudah sangat dalam berurat dan berakar. Untunglah, pendidikan, pekerjaan dan kemajuan telah membuka mata perempuan. Di beberapa negara mereka telah mendapatkan hak-hak yang sama; banyak orang, terutama perempuan, begitu pun laki-laki, sekarang menyadari sangat salah memberikan toleransi atas keadaan yang tidak adil itu lebih lama lagi. Perempuan modern menginginkan hak atas kebebasan sepenuhnya!
Namun itu bukanlah segalanya. Perempuan juga harus dihormati! Dalam pembicaraan umum, lelaki mendapatkan penghargaan yang besar di seluruh bagian dunia, jadi mengapa perempuan tidak mendapat bagiannya? Para tentara dan pahlawan perang diberi penghargaan dan diperingati, para penemu mendapatkan kemasyhuran abadi, para martir dipuja-puja, tetapi saksikan berapa banyak orang yang mau menganggap perempuan sebagai pejuang?
Dalam buku Men Agains Death aku dibuat terkagum-kagum oleh kenyataan bahwa saat melahirkan, perempuan biasanya menderita kesakitan dan kesengsaraan yang melebihi apa yang pernah dialami para pahlawan perang. Dan imbalan apa yang diterima kaum perempuan sebagai bayaran atas rasa sakit yang abadi itu? Mereka bahkan dipinggirkan atas cacat yang mereka terima karena melahirkan, anaknya segera meninggalkan, kecantikannya pun menghilang. Perempuan telah berjuang dan menderita sakit demi menjamin kelangsungan hidup ras manusia, ia bahkan menyiapkan tentara-tentara yang lebih kuat dan lebih pemberani daripada yang disiapkan para pahlawan dan pejuang kebebasan besar mulut itu!
Aku tidak bermaksud menyatakan secara tidak langsung perempuan harus berhenti melahirkan anak; sebaliknya, alam yang mengharapkan mereka, dan itulah jalan yang memang harus ditempuh. Apa yang aku salahkan adalah sistem nilai kita dan betapa banyak kaum lelaki kita yang tidak terpelajar, sulit memang, dan akhirnya perempuan cantik yang menjadi dianggap bagian masyarakat.
Aku sangat setuju dengan Paul de Kruif, pengarang buku ini, ketika ia berkata bahwa laki-laki harus belajar, kelahiran bukan lagi pikiran yang tidak terelakkan dan tidak terhindarkan dalam bagian dunia yang kita pahami beradab ini. Adalah mudah bagi laki-laki bicara—mereka memang tidak akan dan tidak pernah mampu menahan kesengsaraan yang dialami perempuan!
Aku percaya, dalam abad mendatang, gagasan yang menyatakan bahwa memiliki anak adalah tugas perempuan akan berubah; akan ada cara bagaimana menghargai dan mengagumi kaum perempuan, mereka yang memikul beban tanpa keluhan ataupun kata-kata keluhan” _Anne Frank
Baca Juga: "Anne Frank dan Siklus Lingkaran Setan"
Label:
Buku,
Kutipan,
Sebuah Pemikiran
Anne Frank dan Perang
“Seandainya kamu bisa membayangkan tanpa ragu-ragu, kami sering berkata putus asa, ‘Apakah tujuan dari perang itu? Mengapa, oh, mengapa orang tidak bisa hidup bersama-sama dengan damai? Mengapa semua kerusakan ini harus ada?’
Pertanyaan tersebut tidak juga bisa dimengerti, tetapi sampai sekarang tidak seorang pun datang dengan jawaban yang memuaskan. Mengapa Inggris memiliki pabrik pesawat dan bom yang lebih besar dan lebih baik, dan pada waktu yang sama merusak rumah-rumah baru untuk dibangun kembali? Mengapa jutaan uang dihabiskan untuk perang setiap hari, sementara tidak sepeserpun dimanfaatkan sebagai ilmu medis, seniman atau kaum miskin? Mengapa banyak orang mati kelaparan sebentara bergunung-gunung makanan membusuk di belahan dunia lain? Oh, mengapa orang begitu kehilangan akal?
Aku tidak percaya jika perang adalah pekerjaan kaum politisi dan kapitalis. Oh tidak, setiap orang biasa pada umumnya lebih sering diposisikan salah; sebaliknya, rakyat dan bangsa akan memberontak sejak dulu kala! Ada keinginan merusak pada diri manusia, keinginan untuk marah, menjadi pembunuh dan membunuh. Hingga seluruh rasa kemanusiaan, tanpa kecuali, mengalami metamorfosis, perang akan diteruskan, dan semuanya yang dengan hati-hati telah dibangun, diolah, dan ditanami serta tumbuh, akan ditebang dan dirusak, semuanya akan kembali bermula!” _Anne Frank
Bisa dibilang, aku sepakat dengan apa yang dituliskan oleh Anne ini. Mungkin sudah sifat dasar manusia untuk merusak dan menyakiti. Juga mengambil, mencuri, dan merampas yang bukan hak dan miliknya. Ya, sepertinya perang tak akan pernah berakhir di bumi ini, selama mahluk yang dinamakan manusia masih tetap ada.
Ilustrasi Perang
Meskipun begitu, setiap hal memiliki sisi baik dan buruk. Perang ada untuk mengajarkan kita akan indahnya berkasih sayang diantara umat manusia, juga mengajarkan kita untuk bersyukur atas kedamaian yang ada. Dan tak bisa dipungkiri, perang menghasilkan manusia-manusia yang tangguh. Bukannya aku setuju dengan adanya perang, tidak, aku selalu memimpikan dunia dimana tak ada lagi perang. Tapi daripada berkeluh kesah dan hanya merasa prihatin, bukankah lebih baik untuk kita mengambil “baiknya” dan istilah kasarnya, membuang yang tak memberikan faedah untuk kita?!
Dan terakhir… Mari kita berdoa untuk saudara-saudara kita yang sedang hidup ditengah peperangan untuk diberikan ketabahan dan dihindarkan dari perasaan dendam.
Label:
Buku,
Kutipan,
Sebuah Pemikiran
Sabtu, 18 Juni 2011
Planet Mimpi
Sabtu ini aku kembali membaca buku "Little Prince", yang merupakan salah satu buku anak-anak favorit ku :D. Sambil membaca dan melihat-lihat ilustrasinya, jadi kepengen juga menggambar "planet ku". Dan tadaaaaa... Jadilah planet ku saat malam tiba. Rencananya pengen gambar dari berbagai waktu; fajar, siang, sore, dan senja juga. Tapi mungkin lain waktu... ._.
Anne Frank dan Siklus Lingkaran Setan
“Di mata dunia, kami dihukum, tetapi seandainya, setelah semua penderitaan ini, masih ada orang Yahudi yang tersisa, orang-orang Yahudi akan mengangkat kami sebagai sebuah contoh. Siapa yang tahu, mungkin karena agama kami akan mengajarkan pada dunia dan semua orang di dalamnya tentang kebaikan, dan itulah alasannya, hanya itu, mengapa kami harus menderita. Kami tidak akan pernah menjadi orang Belanda, ataupun orang Inggris, atau apa pun, kami akan selalu menjadi Yahudi. Dan kami harus tetap menjaga untuk menjadi Yahudi, dan kami akan mewujudkannya. Berani! Ingat tugas kita dan laksanakan tanpa mengeluh. Akan ada jalan keluar. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang kami. Bertahun-tahun orang-orang Yahudi harus menderita, tetapi bertahun-tahun mereka tetap hidup, dan abad-abad penderitaan hanya membuat mereka semakin kuat. Yang lemah akan jatuh dan yang kuat akan tetap bertahan dan tidak terkalahkan!” _Anne Frank
Saat membaca Catatan Harian Anne Frank pada bagian ini, terlintas di benak saya, “Bagaimana perasaan Anne bila mengetahui bahwa sebagian besar orang-orang Yahudi yang ia percayai akan mengajarkan dunia dan semua orang di dalamnya tentang kebaikan malah berlaku, bertindak tak beda jauh dengan Hitler, dan Nazi itu sendiri?” Mereka menjajah kemudian mengusir penduduk Palestina dari kampung halaman mereka. Apa bedanya sebenarnya Nazi dan Zionis itu?
Lalu menilik kebelakang, Hitler membenci Yahudi karena suatu hal di masa lalu yang tak mengenakkan dengan seorang keluarga Yahudi. Dendam. Ya, dendam yang membuat semua ini terjadi. Hitler mendendam pada Yahudi, membantai keluarga-keluarga Yahudi yang tak bersalah, Hitler jatuh, bangsa Yahudi berkumpul dan menjajah suatu daerah dengan alasan kekuatan, atau mungkin eksistensi, Palestina menderita, umat muslim marah, dan dendam pada Yahudi. Menyamaratakan semuanya, beranggapan semua Yahudi bersalah dan harus dimusnahkan. Tak salah bukan bila kukatan ini sebuah siklus lingkaran setan?
Aku yakin diluar sana masih banyak umat Yahudi yang menentang ulah Zionis dan salah rasanya bila anak-anak kecil muslim diajarkan menyamaratakan semua Yahudi. Jangan sampai suatu hari nanti kita berlaku sama dengan Nazi dan Zionis itu, apa bedanya nanti kita dengan mereka? Dan kapan kita akan bisa keluar dari lingkaran setan ini?
Label:
Buku,
Kutipan,
Sebuah Pemikiran
Rabu, 15 Juni 2011
Catatan Harian Anne Frank
Catatan Harian Anne Frank
Copyright 1982, 1991, 2001, by the Anne Frank-Fonds, Basel, Switzerland together with the original Dutch tiitleof the said Work and mentioning that the book has been translated from the English Version.
Copyright Indonesian owned by Jalasutra.
Sumber terjemahan:
The Diary of a Young Girl: The Definitive Edition
(Anchor Books Doubleday, 1995)
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Susan Massotty
Disunting oleh Otto H. Frank dan Mirjam Pressler
Penerjemah: Anastasia Destiningrum dan Eni Purwaningsih
Editor: Diana Dewi
Desain: Antorio Bergasdito
Edisi Indonesia diterbitkan oleh
JALASUTRA
Cetakan 1 Juni 2008
“Mungkin orang bisa menyuruhmu diam, tetapi mereka tidak dapat mencegahmu memiliki pendapat.” _Anne Frank
Catatan Harian Anne Frank merupakan dokumen paling abadi dari abad dua puluh, dan merupakan salah satu autobiografi paling disukai sepanjang masa. Semenjak terbit tahun 1947, buku ini telah dibaca oleh lebih dari sepuluh juta orang diseluruh dunia dan tetap menjadi wasiat berharga, serta mendapat pujian mendalam bagi sifat dasar jiwa manusia yang tak terhancurkan.
Anne Frank mulai menulis catatan harian sejak tanggal 12 Juni 1942, saat itu ia berusia 13 tahun hingga ia berusia 15 tahun. Ia dan keluarganya melarikan diri dari horor pendudukan Nazi, bersembunyi di belakang sebuah gudang Amsterdam selama dua tahun. Di halaman-halaman buku ini dia tumbuh menjadi seorang perempuan muda serta menjadi seorang pengamat yang bijak akan watak manusia. Dengan wawasannya, dia menyingkapkan hubungan antara delapan orang yang hidup di bawah kondisi yang luar biasa, menghadapi kelaparan, ancaman ketahuan dan dibunuh yang senantiasa hadir, sepenuhnya terasing dari dunia luar, dan terutama, kebosanan, kesalahpahaman yang remeh, serta frustasi hidup di bawah ketegangan tak tertahankan, dalam tempat tinggal yang terbatas.
Catatan harian ini menggambarkan Anne sebagai seorang remaja. Dia rewel dan mencoba menanggulangi kemunculan seksualitasnya. Seperti kebanyakan gadis remaja, dia sering berselisih dengan ibunya, serta wataknya berubah-ubah antara riangnya anak-anak dan kesedihan orang dewasa. Kita disuguhi gambaran kejujuran bebas dan kerapuhan yang menyentuh.
Terakhir kali Anne menulis buku hariannya pada tanggal 1 Agustus1944. Selang tiga hari kemudian, 4 Agustus 1944, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex ditangkap. Anne meninggal ketika di penjara di Bergen-Belsen, tiga bulan sebelum ulang tahunnya yang keenam belas. Otto H. Frank adalah satu-satunya anggota keluarga dekatnya yang bertahan hidup dari Holocaust.
Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dari tulisan Anne Frank dan yang akan saya komentari di tulisan selanjutnya.
Nb: Makasih untuk Sary yang telah meminjamkan bukunya pada ku
Label:
Buku
Kemarin Terbangun Dengan Hadiah
Seperti judulnya, kemarin itu saya dibangunkan oleh JNE yang mengantarkan kiriman dari dizDress. Berawal dari iseng-iseng mengirimkan potongan undian yang terdapat di majalah gogirl!, dan violaaaa... Saya mendapatkan voucher belanja dua ratus ribu di butik "dizDress" tersebut. Setelah melihat-lihat berbagai barang yang ada, saya berketetapan memilih tas ini. Tasnya besar loh, muat banyak.
Label:
Dapat Hadiah,
Promote,
Sekedar kata-kata
Rispondimi
RISPONDIMI
by Susanna Tamaro
Copyright 2002 Limmat Stifting
All rights reserved
JAWABLAH AKU
Alih bahasa: Antonius Sudiarja, SJ
Desain dan ilustrasi sampul: nitamamora
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI,
Jakarta, Agustus 2005
“Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar harga yang lebih tinggi… Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Mengapa? Mungkin karena kita khawatir, orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kaucinta itu bagai udara, tak berbatas…”
Buku ini mengisahkan tiga cerita dengan dilema serupa: Sanggupkah kita mencintai dan menerima cinta dari orang lain? Sanggupkah kita eksis di dunia yang didominasi oleh keserakahan dan rasa iri ini? Buku ini bercerita tentang sifat-sifat jahat, perjuangan untuk hidup tanpa rasa takut, serta pencarian akan cinta.
Seperti karya-karya sastra yang lainnya; dituliskan dengan indah sekaligus gelap dan berbalut dengan majas-majas dari kisah pertama hingga akhir. Oh ia, saya sendiri sangat menyukai kisah ke tiga yang berjudul “Hutan yang Terbakar”. Kisah ke tiga ini bercerita tentang seorang suami yang mendapati istrinya berubah, lalu ia diliputi cemburu atas perubahan itu. Kecemburuannya membuatnya gelap mata, hingga suata kejadian membuat ia membunuh istrinya. Penyesalan hingga penolakan putrinya atas dirinya lalu surat-menyuratnya dengan seorang biarawan yang merupakan sahabat istrinya dan perjuanganya untuk memaafkan diri sendiri tertuang dalam kisah ini. “Teruslah berjalan meskipun orang mengatakan itu sia-sia atau kau tak berhak. Teruslah berjalan meskipun kau tak bisa melihat jalannya lagi, meskipun kabut menyelimuti dan kau menemukan dirimu berjalan di bibir jurang. Dengan terus berjalan, cepat atau lambat kau akan sadar kehidupan adalah perjalanan yang harus ditempuh, bukanlah kepompong tempat kau hanya bisa meregangkan kaki mu” (Hal 212-213). Dan dua kisah lainnya yang pertama berjudul sama dengan judul bukunya “Jawablah Aku”, yang kedua berjudul “Neraka Itu Tidak Ada”.
Karya-karya Susanna Tamaro memang tak dapat dilewatkan begitu saja, begitu berbekas dihati, meninggalkan jejak kearifan. Sayang bila melewatkan membaca buku yang satu ini. Beruntunglah, saya menemukannya disebuah taman baca dan meminjamnya. Setelah menamatkannya, saya berharap Gramedia menerbitkannya ulang sehingga saya bisa memilikinya.
“Aku lebih suka menganggap setiap akhir sebenarnya awal yang baru. Tentu saja ada ‘sesuatu’ yang telah berakhir. Akan tetapi ‘sesuatu’ tidak pernah berarti seluruhnya . Apa yang kita sebut akhir, sering kali hanya sejenis metamorfosis.”
Label:
Buku
Sabtu, 11 Juni 2011
Flanel dan Sarung Hp Ku
Flanel memang kain yang murah dan paling gampang dibentuk, juga paling cocok dikantong mahasiswa pengangguran macam saya ini. Bermodal lima puluh ribu rupiah sudah bisa membeli dengan bermacam-macam warna beserta pernak-pernik pendukung lainnya. Yeah.... I LOVE FLANEL!!!
Beberapa Flanel yang ku beli
Sarung untuk hp ku... Bangga deh make buatan sendiri
Tak Berbatas
"Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar harga yang lebih tinggi... Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Mengapa? Mungkin karena kita khawatir, orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kau cinta itu bagai udara, tak berbatas..."
_Rispondimi, Susanna Tamaro
Label:
Kutipan
Puisi Malam
Teruntuk kisah yang melantunkan sepi,
menanti fajar dalam kecamuk rasa.
Apa yang telah pergi tak mungkin kembali,
terutama untuknya,
penebar sakit.
menanti fajar dalam kecamuk rasa.
Apa yang telah pergi tak mungkin kembali,
terutama untuknya,
penebar sakit.
_Makassar, Kamis 2 Juni 2011, 12.55am
Label:
Puisi-kah?
Perca dan Pouch Pertama
Untuk memuaskan hobby baru, aku mengemis sisa-sisa kain dari tetangga ku yang memang kebetulan seorang penjahit. Gak ada maksud pelit untuk diri sendiri si, tapi memang saat itu uang bulanan sedang sekarat-sekaratnya. Lagian apa salahnya memanfaatkan barang-barang sisa, ya gak? hahaha...
Dan tadaaaaaaaaa.... Jadilah satu pouch pertama :p Sedikit mengalami kesulitan pada pemasangan resletingnya, terlebih saat itu belum punya mesin jahit, jadinya semuanya dilakukan dengan tangan.
Perca pemberian tetangga
Dan tadaaaaaaaaa.... Jadilah satu pouch pertama :p Sedikit mengalami kesulitan pada pemasangan resletingnya, terlebih saat itu belum punya mesin jahit, jadinya semuanya dilakukan dengan tangan.
Apa Kabar Juni?
Wahhhh... Rasanya sudah sangat lama saya tidak menulis di blog ini, dan tau-tau saja bulan Juni sudah berada pada tanggal 11!!! Apa kabar Juni???? Semoga bulan ini bisa menjadi bulan yang lebih baik dan hari-hari yang ku lalui di bulan ini semoga bermanfaat untuk ku dan untuk semuanya. Adanya keterbatasan sarana dan prasarana mungkin akan sedikit menghambat keberlangsungan blog ini, tapi semoga tak menghambat keranjingan ku akan menulis. Doakan saja ya...
Oh ia, tiga minggu yang lalu, kiriman dari Fabricfame tiba \(^O^)/ Seneng banget! Tapi maaf banget mbak baru postingnya sekarang.
Ini gantungan kamera SLR, berhubung saya belum punya kameranya, gantungan ini disimpan dulu :D Semoga gantungan ini menjadi pemancing kedatangan kamera tersebut. Hahaha...
Label:
Sekedar kata-kata
Langganan:
Entri (Atom)

















