Selasa, 29 November 2011

Tentang Sebuah Rumah

Aku punya mimpi.
Tentang sebuah rumah di pinggir pantai,
rumahku,
rumah kita.





Tempat dimana kita berpelukan dan berbagi kebersamaan sambil mengagumi senja.

Tempat dimana suara debur ombak yang memecah pantai selayaknya lagu ninabobo yang memandu kita ke negeri mimpi yang indah.
Dan ketika hujan turun, kita berdesakan di depan jendela, memandang tirai air yang terhempas ke jendela dan laut yang bergejolak akibat badai yang mengganas.

Lalu setiap malam-malam cerah yang kita lewati bersama dirumah itu, kita habiskan dengan berjalan bergandengan tangan di bibir pantai, menikmati keheningan dan kemistikan malam. Terkadang ketika bulan mati, kita melihat keatas pada rasi bintang yang berkilauan memenuhi langit laksana permata. Mengagumi kebesaran Sang Pencipta.
Tak lupa ketika purnama, kita duduk dan mengagumi cahaya keperakannya yang terpancarkan kelautan. Bagaikan sosok Artemis yang mengendarai keretanya dengan cepat, meninggalkan siluet cahaya keperakan.

Ada juga saat-saat ketika kau tak bisa menemaniku disini. Mungkin karena ada urusan pekerjaan yang menyita waktu mu dan mengharuskan mu bekerja hingga larut. Jika itu terjadi, aku dapat menyusuri pantai seorang diri, menikmati kesendirian dan berbisik pada laut tentang Sang Pemilik Rindu.

Aku selalu merasa, laut adalah tempat dimana jiwa-jiwa yang merindu berkumpul, terpanggil untuk mencari sosok-Nya, dan menemukan kedamaian.

Yeah sayang... Aku punya mimpi. Tentang rumah yang akan kita miliki.

_Selasa 1 Februari 2011, 2.05pm

*Ilustrasi diambil di sini

Rabu, 16 November 2011

Because of Winn-Dixie


BECAUSE OF WINN-DIXIE
by Kate DiCamillo
Text @ 2000 Kate DiCamillo
Cover Ilustration @ 2000 Chris Sheban
Publishead by arrangement with Walker Books Limited, London SEII 5HJ, UK.
All rights reserved

KARENA WINN-DIXIE
Alih bahasa: Diniarty Pandia
GM: 106 04.009
Hak cipta terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama

“Tidak mungkin kau menahan sesuatu yang ingin pergi. Kau hanya bisa menyayangi apa yang kau miliki selama kau memilikinya.”
_Because of Winn-Dixie, Kate DiCamillo

India Opal Buloni adalah anak seorang pendeta di Gereja Baptis Open Arms of Naomi. Sebenarnya, ia baru saja pindah dengan ayahnya ke Naomi, Florida. Dan ia merasa sangat kesepian, Di Naomi ia belum memiliki teman, sedangkan ayahnya, sang pendeta, sangat sibuk dengan urusannya. Terkadang Opal merasa ayahnya seperti seekor kura-kura yang menyembunyikan kepalanya di tempurungnya, bersembunyi dari dunia.

Pada suatu hari di musim panas itu, Opal yang berumur sepuluh tahun berbelanja di toserba setempat, tapi malah pulang membawa anjing…

Winn-Dixie bukanlah anjing biasa. Ia memang besar, kurus, dan bau, tapi ia memiliki senyum yang memikat. Karena Winn-Dixie-lah, Opal jadi mengenal orang-orang yang sangat seru dan mulai punya teman. Karena Winn-Dixie-lah ia berani bertanya pada ayahnya tentang ibunya, yang pergi ketika Opal berusia tiga tahun. Sebetulnya, hampir semua yang terjadi pada musim panas itu karena Winn-Dixie.

“Kau tidak selalu bisa menilai orang dari hal-hal yang pernah mereka lakukan. Kau harus menilai orang dari apa yang mereka lakukan sekarang.”
_Because of Winn-Dixie, Kate DiCamillo

Kate DiCamillo adalah salah satu pengarang cerita anak-anak yang kukagumi. Kisah yang ia tuliskan selalu memuat pesan moral yang dalam tetapi dikisahkan dengan sederhana dan pastinya tidak sulit untuk dipahami anak-anak. Sayangnya di buku ini tidak disertakan ilustrasi-ilustrasi yang bisa menambah daya pikat untuk anak-anak.




Lebaran Tak Afdol Tanpa Kue

*Telat banget ya postingnya???

Handmade Dream Aromatic Pillow


Yippe… Kali ini saya memenangkan Giveaway dari Tealovecoffe \(^-^)/ Sebuah “Handmade Dream Aromatic Pillow” dari Pourvous. Sebenarya sudah lama barang ini datanya, tapi baru sempat diposting kali ini.


Awalnya sempat bertanya-tanya juga si. Bantal beraroma??? Pas kirimannya datang ngeh lah saya. Ternyata “isi” dari bantal ini bahan-bahan herbal alami.  Rasanya seperti diisi butiran-butiran pasir, tapi bantalnya tetap empuk kok dan aroma serta rasa mint yang terpancar dari bantal itu bikin tidur saya nyenyak. (Kenapa malah promosi ya? :p)

Karena dibuat dari 100% herbal alami, bantal ini bermanfaat untuk kesehatan dan membuat perasaan jadi relax. Dan pas baca tulisan di belakang dusnya, bantal ini efektif untuk mengurangi nyeri otot loh. Dan sayapun telah membuktikannya sendiri.

Terimakasih untuk tealovecoffe dan Pourvous atas Handmade Dream Aromatic Pillownya. Sangat bermanfaat

The Giraffe, and the Pelly and Me

Saat memposting “Sekotak Roald Dahl dan Quentine Blake”, aku sempat berkata akan menceritakan/membahas enam dari sembilan buku yang terdapat dalam kotak tersebut. Ke enam buku itu merupakan kisah-kisah terbaik  dalam kotak itu (setidaknya menurut pendapatku). Dan kali ini, sesuai janji saya, saya akan memulainya dengan “The Giraffe, and the Pelly and Me”.

THE GIRAFFE, AND THE PELLY AND ME
By Roald Dahl
Copyright Roald Dahl Nominee Ltd, 1985
Ilustration Copyright  1985 by Quentin Blake
All rights reserved

SI JERAPAH DAN SI PELLY DAN AKU
Alih bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Hak cipta terjemahan Indonesia:
PT  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua:  Januari  2010

Tak jauh dari tempat  tinggal Billy terdapat rumah kayu kosong  yang aneh berdiri sendirian di sisi jalan. Bangunan itu dulunya sebuah toko permen.  Billy selalu berharap ia dapat membeli bangunan tersebut dan membangunnya menjadi toko permennya sendiri. Suatu hari saat lewat dibangunan tersebut, ia melihat bahwa bangunan itu telah terjual  dan telah direnovasi. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah pintu bangunan tersebut, dulunya bangunan itu memiliki pintu tua yang kotor dan berwarna cokelat, sekarang pintu itu telah digantikan dengan pintu baru berwarna merah dengan tinggi dua kali dari pintu terdahulu. Sangat konyol menurut Billy.  Hal kedua yang menarik perhatiannya adalah tulisan di kaca bangunan tersebut, seseorang telah menuliskan; “ PERUSAHAAN PEMBERSIH JENDELA TANPA TANGGA- Membersihkan jendela anda tanpa banyak tangga kotor menempel di rumah Anda.”



Billy yang masih penasaran dengan bangunan dan orang yang membelinya, terus memandangi bangunan itu. Dan tiba-tiba, salah satu daun jendela yang berada di tingkat paling atas mulai terbuka ke luar… Lalu ada kepala muncul di jendela terbuka itu. Dia memandangi kepala tersebut, dan kepala tersebut balik memandanginya dengan matanya yang besar bulat dan berwarna gelap.  Dan kemudian berturut-turut dua jendela ikut terbuka lebar, dan muncullah seekor burung Pelikan dan seekor Kera. Dari percakapan antara Billy dan burung Pelikan tersebut tahulah ia bahwa mahluk yang memandangnya pertamakali adalah seekor  Jerapah. Kemudian si kera mulai menari dan berjingkrak-jingkrak; “Kami para Pembersih Jendela!” si Kera bernyanyi.

“Kami akan sikat kaca
Hingga berkilat bagai tembaga
Dan bersinar bak permata baru!
Kami cepat dan sopan
Datang kapanpun dibutuhkan
Si Jerapah, dan si Pelly dan aku!

Kami luar biasa
Mahir mengerjakannya
Tak pernah berhenti untuk minum teh dulu.
Semua jendela berkilat
Jika kami sikat
Si Jerapah, dan si Pelly dan aku!

Air dan sabun kami gunakan
Serta harapan dan kebaikan
Tapi tak gunakan tangga, tak perlu.
Siapa butuh tangga
Jika kau setinggi raksasa?
Bukan Jerapah, bukan Pelly! Bukan aku!

Dan dimulailah petualangan sehari Billy yang berujung dengan terkabulnya cita-citanya…

Ilustrasi yang ada didalam bukunya













Aku sangat menyukai buku ini karena selain ceritanya yang simpel dan menarik, juga fakta tentang ide Pak Dahl yang sangat jenius menggabungkan seekor jerapah, burung pelikan, dan kera menjadi satu tim pembersih jendela. Cerdas sekali menurut saya! Tak bosan membacanya berulang-ulang kali.

 Mencoba sedikit mengikuti gambar Quentine Blake :)

Selasa, 15 November 2011

Senandung kasih senandung rindu.
Kumulai diawal malam, dan kuakhiri dipelukkan Sang Kekasih.

_Makassar 12 Agustus 2011. 1.57am

Minggu, 13 November 2011

Kerakusan, Ketamakan, dan Iri Hati


Mungkin semua bermula ketika melihat manusia-manusia lain lebih beruntung darinya. Perlahan dan pasti, bibit-bibit iri hati bertunas dan tumbuh.
Ketika keinginan dan usaha yang ia lakukan membuahkan hasil dan kedudukannya mengalami perbaikan sehingga ia setara dengan “manusia-manusia yang beruntung” itu. Perasaan ingin lebih berkembangbiak.
Dan ketika ia telah melebihkan derajatnya dari manusia yang lainnya, perasaan superior menguasainya. Sombong muncul. Rasa istimewa membuatnya mengharapkan lebih, lebih, dan lebih lebih dari manusia lainnya.

Begitulah cerita ini pada mulanya; Manusia dengan segala kerakusannya!

Merasa tak pernah cukup dan tak pernah bersyukur.
Iri hati, kerakusan, dan ketamakan menghitamkan hatinya dan menggrogotinya dari dalam. Menutupi tabir. Membuatnya mengsyahkan dan menghalalkan segala cara.

Ia tidak lagi peduli saudara, keponakan, cucu, bahkan istri dan anaknya siap ia korbankan demi mencapai keinginannya dan menggapai kepuasan hatinya. Ataukah ia memang tidak pernah peduli? Sedari awal mereka memang dipersiapkan untuk menjadi tumbal?

HEY SI MANUSIA TAMAK!
Sesungguhnya apa yang engkau cari di dunia ini?
Ketika jasad mulai membusuk dimakan waktu, jiwa pun telah engkau perdagangkan dengan iblis, bahkan Sang Kekasih kau kedokkan dari bibirmu yang kotor. Apa yang tersisa dari dirimu selain KESIA-SIAAN?!!

HEY SI GELAP HATI!
Bahagiakah kau sekarang dengan hak-hak manusia lain yang telah kau rampas?
Kemanakah semua itu akan membawamu?
Hilang tak berbekas.
Bukankah kau telah ditunjukkan dari hasil kejahatanmu selama ini?! Kau sekarang tak memiliki apa-apa, mengemis dari manusia-manusia yang kau sakiti dengan teluhmu. Sambil menerima belas kasihan dari mereka, kau membisikkan mantramu dari hati yang terbalut dengki.

HEY KAWAN IBLIS!
Tidakkah kau juga sadar?

Senin, 07 November 2011

Hilang


Mulanya, gemuruh itu datang. Sayup-sayup dari kejauhan.
Kemudian awan hitam berarak menutupi segalanya. Hanya gelap, sepi, dan kemuraman yang dapat teraba oleh indra.
Lalu perlahan hujan pun turun...
Menghapus segalanya...
Tiada lagi aku, kau, apalagi kita.
Semua terhapus dalam sekejap. Hilang. Lenyap. Tak berbekas.
Musnah terhayutkan aliran air hujan, menuju gorong-gorong bau nan hitam. Tempat kebencian dan kegelapan bersarang. Mengalir terus mengalir entah kemana atau mampet dan mengenang serta membusuk disuatu tempat.

_Ditulis sambil memandang hujan di sore hari ini dan mendengarkan lagu “Rain of Blessing”-nya CNBlue :)

Share It