Kamis, 31 Mei 2012

Gadis Kecil di Sudut Ruangan

Sudah lama aku berada disini, semenjak kapan tepatnya aku sudah tidak mengingatnya lagi. Tidak ada yang memperhatikan atau cukup peduli dengan keberadaanku, aku pun begitu. Sekedar berdiam diri disudut ruangan dan mengamati orang-orang yang berlalu lalang disekitarku. Duduk memeluk lututku dan mengawasi hiruk pikuk dunia. Dunia yang lumayan kejam terhadapaku.

Terkadang aku memang merasa kesepian dan ingin berinteraksi dengan mereka. Hanya saja beberapa kali mencoba menyapa, mereka tidak menghiraukanku bahkan memandangiku pun tidak. Membuat nyaliku ciut. Begitu tidak berharganyakah diriku? Mugkinkah manusia sekarang sudah begitu sombongnya? Tidak ingin berbincang dengan gadis kecil di sudut ruangan? Akankah sekali lagi aku akan sendirian?

Dulu aku selalu sendirian. Aku tidak dapat bermain dengan anak-anak seusiaku karena seringnya berpindah-pindah tempat. Aku sendirian! Tapi aku tidak mengeluh, aku lebih suka sendirian daripada bersama ayahku. Kuberitahu kau, dia jahat! Sangat jahat! Aku begitu takut jika dia telah pulang. Dengan badan berbau busuk alkohol, dia sering memukuliku dan menindihku. Rasanya sakit sangat sakit. Tangannya yang kasar dan bau nafasnya yang memuakkan membuatku menangis dan menjerit. Tapi itu tidak membantu, hal itu terjadi terus-menerus, berhari-hari hingga suatu ketika aku tidak lagi merasakan apa-apa. Hanya ketakutan.

Dan di sinilah aku. Entah sejak kapan. Oh ia, mungkinkah kau pernah melintas di tempatku? Jika ia jangan lupa menyapaku tapi ku harap kau bukan laki-laki. Aku takut dengan laki-laki, terutama ayah. Aku gadis kecil yang duduk memeluk lutut disudut ruangan. Rambutku hitam bak kayu eboni dan di kepang dua, gaunku berwana merah selutut, sepatuku berwarna hitam dengan kaos kaki berenda berwarna putih. Jangan lupa menyapa dan tersenyum kepadaku dan ayo kita bermain

Senin, 21 Mei 2012

Mei Mendekati Akhir

Ilustrasi




Mei semakin mendekati akhir.

Sebentar lagi aku akan meninggalkan sebuah kota dan kembali ke kota kelahiranku.
Aku pulang... akan segera pulang...

Ada perasaan tak rela untuk pulang. Ada teman yang begitu baik dan nyaman bersama, karena kesamaan minat yang kami miliki dan akan ku tinggalkan. Ada keluarga yang mengingatkanku akan bayang-bayang rupa Andi’ dan menghapus sedikit rindu. Ada keponakan kecil yang membuatku jatuh cinta pada senyuman, kerling jahil matanya, dan ocehannya yang mengisi hatiku teramat banyak.

Hingga hal-hal remeh yang membuatku betah. Kenyamanan tidur cepat dan bangun pagi, embun dan kontur tanah berbukit-bukit, saluran TV kabel, jalanan yang bising serta perasaan damai diantara hiruk pikuk Ibu Kota. Ketenangan tersendiri di antara keramaian...

Aku pun tak sabar ingin pulang. Pada rutinitas tak jelas di sana. Pada semangat mencari pekerjaan yang sesuai hati. Pada tulisan yang tak pernah terapungkangkan. Pada jualan yang keteteran. Juga keluarga yang bising dan ramai di sana... Terutama pada dia, lelaki mentari ku. Ada perasaan kangen yang meluap-luap hingga tak mampu lagi rasanya hati ini membendungnya. Ia ingin mengalir bebas menuju samudra... menuju ia...

Mei semakin mendekati akhir...
Ada gairah dan antisipasi di sini. Ingin dan tak ingin pulang. Tak sabar menunggunya dan merasa ini terlalu cepat. Kontradiktif. Tapi ia semakin dekat, meskipun hati belum memutuskan akan condong kemana...

*Yang ku tahu, sekarang, aku ingin berada di dalam pelukanmu.

_Jakarta, Senin 21 Mei 2012 10.23pm

Jumat, 18 Mei 2012

Laut Datang Ke Chickentown

“Jangan persalahkan angin.
Dia membawa apa pun
Yang dibebankan atasnya,
Baik ataupun buruk.
Angin membawa gosip,
Angin membawa tawa,
Angin membawa doa
Dan lagu-lagu cinta.
Angin membawa celoteh
Anak-anak dan orang gila,
Tak tahu apa bedanya.
Jangan persalahkan angin.”
_oleh Zaosharan, penyair Totemix

Ini kutipan dari bab ke empat, buku ke dua Abarat, Days of Magic Nights of War. Seperti buku pertama, buku ke duanya juga penuh dengan ilustrasi yang menyeramkan. Beruntung saat ke Mol Taman Anggrek dan mampir ke Gramedianya, buku ini ternyata di diskon habis-habisan. Saya membelinya cuma dengan harga dua puluh ribu rupiah '\(^O^)/'
Resensinya menyusul ya...

Jumat, 11 Mei 2012

The Magician's Elephant


THE MAGICIAN’S ELEPHANT
By Kate DiCamillo
Text @ 2009 Kate DiCamillo
Ilustration @ 2009 Yoko Tanaka
Published by arrangementwith Walker Books Limited,
London SE11 5 HJ, UK.
All rights reserved

GAJAH SANG PENYIHIR
Alih bahasa: Dini Pandia
Hak cipta terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan pertama kali oleh:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

152 hlm; 20 cm

“Bagaimana kalau?
Kenapa tidak?
Mungkinkah?”

“Kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada diri kita sesering yang kita berani, Bagaimana dunia bisa berubah kalau kita tidak mempertanyakannya.”
_Leo Matienne

Sejak orangtuanya meninggal dunia, Peter Augustus Duchene tinggal bersama seorang mantan tentara tua bernama Vilna Lutz yang mengasuhnya selayaknya seorang tentara. Peter selalu bertanya-tanya tentang adik perempuannya yang dikatakan telah meninggal semenjak lahir, Adele. Dia ingat, sebelum Ibunya menghembuskan nafas terakhir ia berjanji akan menjaga adiknya dan membuatnya bahagia.
“Ia berusaha mengingatkan diri tentang siapa dirinya. Ia berusaha mengingat bahwa, di suatu tempat, di tempat yang sama sekali berbeda, ia dikenal dan disayangi.”

Suatu hari Vilna Lutz menyuruh Peter ke pasar untuk membeli ikan dan roti. Saat di alun-alun pasar kota itulah ia melihat tenda merah si peramal. Peter langsung tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang harus ia ajukan: apakah adik perempuannya masih hidup? Dan kalau iya, bagaimana ia bisa menemukannya?

“Gajah,” jawab si peramal.
“Kau harus mengikuti gajahnya, gajah betina itu akan membawamu ke sana.”
Jawaban misterius si peramal membuat Peter kecewa. Tidak ada gajah di kota Baltese tempat Peter tinggal. Si peramal pasti berbohong, pikirnya saat itu. “Mungkinkah? Benarkah?”
“Kebenaran selalu berubah.”
_Sang Peramal

Malam itu, di Gedung Opera Bliffendorf, seorang penyihir dengan segudang pengalaman dan reputasi memudar menampilkan pertunjukkan sihir paling mencengangkan sepanjang kariernya. Ia bermaksud memunculkan sebuket bunga lili, namun si penyihir malah menghadirkan gajah. Gajah itu jatuh menerobos langit-langit gedung opera di tengah hamburan debu plester dan kasau atap, lalu mendarat di pangkuan wanita bangsawan bernama Madam Bettine LaVaughn, yang semula akan diberi buket oleh si penyihir.


Kehadiran tiba-tiba sang gajah di kota Baltese memicu serangkaian peristiwa yang begitu menakjubkan, begitu mustahil, dan memunculkan harapan, sehingga Peter hampir tidak berani mempercayainya.
“Memangnya siapa kita, sehingga merasa tahu maksud Tuhan?”
_Leo Matienne

Satu lagi buku Kate DiCamillo yang membuatku jatuh cinta. Seperti buku-buku DiCamillo yang pernah saya baca, buku ini di ceritakan dengan sederhana tetapi memiliki makna yang teramat dalam tentang hidup itu sendiri. Sangat pas untuk bacaan anak sebelum tidur... Kita diajak merasakan kesuraman kota Baltese dan bagaimana keajaiban harapan dan cita-cita yang dimunjulkan dari serangkaian peristiwa yang berpusat di sekeliling sang gajah.



“Dan semua orang, tanpa perkecualian, memiliki harapan dan mimpi, mengharapkan pembalasan dendam dan mendambakan cinta.”

Rabu, 09 Mei 2012

Sekali Lagi, Pilihan


Saat sedang membaca Eleven Minutes, buku karangan Paulo Coelho, tiba-tiba saja pertanyaan ayah Georg (Gadis Jeruk, Jostein Gaarder) terlintas; “… apa yang kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi dari semua itu, tak pernah kembali lagi? Atau apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih?”
Tentu saja pertanyaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Eleven Minutes, tapi entah mengapa saat itu pertanyaan itu terlintas…

Ilustrasi
Pertama kali membaca pertanyaan tersebut dari buku Gadis Jeruk, saya bersegera menjawab; tidak, terima kasih. Mengapa memilih turun ke bumi dan berpisah dengan Sang Kekasih? Untuk apa merasakan kepedihan di bumi jika kita telah berada di sisi-Nya? Menjadi manusia itu berat loh, sangat berat. Juga menyedihkan. Perasaan kehilangan, kemarahan, kesedihan serta rasa cemburu melihat orang terkasih terlebih dahulu menemui Sang Kekasih sungguh tidak tertanggungkan bagiku. Belum lagi perasaan berdarah-darah melihat orang lain kesusahan atau mengalami hal yang buruk. Menyesakkan! Sangat. Apalagi jika ternyata kita tidak berdaya menolong atau sedikit meringankan beban mereka, sesaknya berlipat ganda. Juga tingkah manusia-manusia itu sendiri yang serakah, berkhianat atau berlaku curang. Menjijikkan melihat bumi ini dengan segala manusia yang bertempat tinggal di dalamnya.
Jadi, tidak terima kasih Tuhan…

Ya itulah yang akan ku pilih. Itu jawabanku jika Sang Kekasih memberikan tawaran untuk “turun” ke bumi. Tapi apakah sebelumnya, sebelum aku berada di bumi, Sang Kekasih sudah pernah memberikanku pilihan untuk ini? Jika ia, mengapa sekarang aku berada di bumi? Apakah dengan tololnya aku menyambut tawaran untuk berada di bumi? Mengapa? Apa dulu aku menginginkan berada di bumi ini? Mengapa?
Tidak menemukan jawabannya, aku melanjutkan membaca Gadis Jeruk tersebut hingga selesai. Akhir cerita, Georg menyakinkan ayahnya bahwa ia sangat bersyukur bisa berada di bumi saat ini. Alasan yang ia kemukaan sedikit bisa kupahami tapi tidak sama sekali mengubah jawabanku. Lalu hal ini terlupakan sampai tadi siang saat aku membaca Eleven Minutes.

Setelah merenungkannya (Sok ya pemakaian katanya, tapi betul, merenungkannya pas menggambarkan apa yang ku lakukan tadi), aku menemukan jawabannya beserta jawaban-jawaban dari segala pertanyaan yang menyusul setelah aku menjawab pertanyaan ayah Georg pertamakali…

Jika aku sekali lagi diberikan pilihan untuk tinggal di bumi atau tidak sama sekali, pilihanku sama, tidak, terima kasih. Tidak seperti ayah Georg yang menyesal karena ia begitu cepat “dicerabut” dari bumi, aku hanya ingin terus bersama Sang Kekasih. Menjadi tiada.

Dan mengapa saat ini aku berada di bumi?
Ya, kurasa saat itu aku tergoda suatu petualangan di demensi lain. Aku tergoda untuk menjadi sekedar ada. Meskipun sedih dengan pilihanku, aku tidak menyesal. Aku senang memilih berada di bumi, sesingkat apapun nantinya keberadaanku ini. Apakah kau mengerti? Aku merasa sedih sekaligus senang? Ambigu ya… Di sini, di bumi, kusadari meskipun menyaksikan keburukan, kekejaman, dan hal-hal mengerikan yang dilakukan manusia, aku juga menyaksikan kebaikan, kelembutan, dan hal-hal terpuji yang dilakukan manusia. Aku menderita sekaligus berbahagia di sini. Aku memiliki keluarga, sahabat, dan kekasih yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Yeahhh… Aku tidak menyesal menerima tawaran Tuhan untuk berada di bumi ini. Dan aku bahagia dengan pilihanku.

Senin, 07 Mei 2012

Menyaksikan Super Show 4


Tujuan utama saya ke Jakarta memang selain menghadiri pernikahan sepupu juga untuk meonton Super Show 4. Sedikit menggelikan memang, aku bisa di bilang seorang ELF yang baru. Bahkan pernah mengernyit jijik melihat tingkah polah teman-teman yang begitu menggilai SuJu ini. Pikirku, apa si bagusnya mereka? Lelaki-lelaki bermuka nyaris mirip yang nyanyi sambil ngedance?!! Yang jumlahnya begitu banyak? Ya istilah tak kenal maka tak sayang memang berlaku di sini. Karma? Mungkin. Entah bagaimana mulanya, akhirnya aku menyukai lagu-lagu mereka dan akhirnya menjadi seorang ELF yang lumayan loyal.

Singkat cerita, saya menonton yang hari terakhir, tanggal 29. Beruntung kakak sepupu mengantar sampai ke Ancol, persis di pintu masuk gerbang Mata Elang, tempat konser tersebut diadakan. Berangkat lumayan pagi, jam 8 dan tiba di sana kurang lebih jam sembilanan. Dan itu pun antrian untuk menukar tiket gila-gilaan panjangnya. Karena itu saya tidak sempat membeli pernak-pernik lucu yang di jual di sana, juga tidak sempat berfoto sedikit pun. Setelah antrian penukaran tiket, saya harus mengantri lagi untuk masuk ke lokasi konsernya, sedikit dongkol, tapi mau apa lagi. Kamera sudah saya sembunyikan sebaiknya, berharap saat pemeriksaan tas, kamera tersebut tidak di temukan. Dan ya, harapan saya terkabulkan.

Pengaruh tubuh yang kecil, saya mendapat posisi menguntungkan dengan menyelinap di antara orang-orang yang bejibun banyaknya dan mendapat posisi tepat di depan. Tapi sialnya, staff berada di depan saya dan saya tidak bisa memotret sedikit pun. Percuma sekali berhasil menyelundupkan kamera, tapi tidak dapat memotret!!! Untung seorang teman, walaupun sok banget menganggap orang yang baru bertemu sebagai teman, bersedia membagi foto-foto yang ia jepret. Semua foto di postingan ini dia yang menjepretnya, dan maafkan saya, bahkan lupa menanyakan nama kamu sayang. Maaf...

Untuk konsernya? Saya sudah tidak tahu harus berkata apa! KEREN!!! Sangat keren!!! Sukses membuat suara saya hilang selama dua hari setelah konser akibat ikut bernyanyi dan berteriak. Puas rasanya, meskipun menyimpan kedongkolan terhadap promotornya.



Moment tidak terlupakan antara SuJu dan ELF adalah di lagu Our Love juga di lagu Lovely Day. Sangat ingin merekamnya, tapi si staff galak banget, tidak bisa berbuat apa-apa. Hiks....

Ehmm... Dari gambar di atas, sudah taukan saya bias siapa? ^^


WonKyu moment >.<  Waktu kejadian ini saya sangat histeris!!! Mau foto!!!  Untung ternyata ada yang mengabadikannya.





Rabu, 02 Mei 2012

Sunflower

Ilustrasi

“Use your head- take it slow, make it simple and neat
Put on moisturizing lotion on my two cheeks
Have a good sense of fashion- just like a
magazine model
Before I go to the street across where she lives

*As I whistle one, two, three (I’m walking along)
Today, again, I long for her
I don’t know the way to completely get her yet
But I send my heart to her everyday
I am a sunflower bloomed next to her (sunflower
x2)
As I hum along (sunflower x2)

I scatter the sound of love budding on the street
she walks
Without her knowing ah!
I secretly take a look at her
Come over where I am, just a little bit more
So that you can see what kind of person I am

**She has sat down (sat down)
My love bell has rang (bell has rang)
The more I look, she is so pretty(The way to her embrace)
I search for the way to
her embrace
I am her sunflower (bloomed because of her) (sunflower x2)
My heart is nervously excited (sunflower x2)

In order for her to come to ward me because of
my scent
I sometimes stand in the moonlight, all night long
I stand here as always- so she can stop to greet me.”

Ini kurang lebih terjemahan dari lagu Sunflower-nya Super Junior. Lagu ini berkisah tentang cinta yang selayaknya bunga matahari, yang hanya mampu memandangi matahari dari kejauhan. Meskipun arti sebenarnya lagu ini lumayan nyesek tapi dinyanyikan dengan riang, juga seperti bunga matahari yang mekar sempurna hanya di bawah cahaya matahari. Dari semua lagu di album ke 5 Super Junior, aku paling suka lagu ini. Sayang saat Super Show kemarin lagu ini tidak dinyanyikan :(

nb: cerita tentang konser ini mungkin baru saya posting pas balik ke Makassar saja.

nbb: Istilah “Heabaragi” (Sunflower) di Korea juga menggambarkan cinta seorang fans yang hanya bisa memandang idolanya dari kejauhan.

Selasa, 01 Mei 2012

Hallo Mei!

Apa kabar Mei?
Selamat datang kembali di kehidupanku... Hari ini kau datang membawa mendung di langit. Apakah di hari pertamamu ini akan turun hujan? Aku menantikannya.

Pagi ini aku bangun dengan perasaan bahagia. Aku memandang langit yang kelabu sambil menandaskan segelas besar air putih hangat. Aku suka air putih hangat di pagi hari. Selain menyegarkan tenggorokan yang kering semalaman, air putih hangat juga menghangatkan tubuhku yang entah mengapa setiap pagi menggigil bahkan terkadang ngilu hingga ketulangnya (penyakit nenek-nenek?).

Tersenyum, aku mengingat seorang sahabat. Sahabat yang tepat tanggal 1 Mei ini berulang tahun. Pratiwi Sekarsari. Atau yang biasa disapa Tiwi. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa? Meskipun di era serba canggih ini, komunikasi kami tetap terjaga. Tiba-tiba aku merindukannya. Merindukan gadis mungil yang manis itu (semungil-mungilnya saya, dia lebih mungil. uyeahhh...). Kuharap dengan beradanya aku di Jakarta saat ini kami dapat bertemu. Melepaskan rindu, mengobrol, bertatap muka, saling berbagi cerita, serta bernostalgia tentang kehidupan SMA kami.

Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Di praMOS SMA kami, kami di gugus yang sama, gugus 1. Kuingat dia yang paling sering “disiksa” lantaran memang manis juga karena dia pindahan dari Jakarta. Mukanya lugu sekali saat itu ^^ tidak seperti sekarang, seperti tante-tante V^^ #kabur

“Selamat ulang tahun Tiwi ^^ Sudah tua lu ye, 22 tahun! Semangat tante, cepat sarjana dan merid tuh dengan Haidir. Dak bosan apa pacaran hampir 6 tahun?!! >.< Jarak jauh pula...”

nb: Gak mau tau kita harus ketemu!

Share It