Jumat, 28 September 2012

George's Secret Key to The Universe



GEORGE'S SECRET KEY TO THE UNIVERSE
by Lucy & Stephen Hawking
Ilustrasion by Garry Parsons
Copyright @ 2007 by Lucy Hawking
All rights reserved

KUNCI RAHASIA GEORGE KE ALAM SEMESTA
Alih bahasa: Andang H. Sutopo
Editor: Widi Lugina
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A.W
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 2009

336 hlm; 21,6 cm

"Ilmu pengetahuan memang menakjubkan dan sangat menarik, dan membantu kita untuk mengerti dunia di sekeliling kita dan semua keajaiban-keajaibannya."
_Eric

Babi tak mungkin lenyap begitu saja, begitu pikir George saat mendapati kandang babinya kosong melompong. Freddy adalah babi peliharaannya yang ia dapatkan sebagai hadiah pada malam Natal yang dingin beberapa tahun yang lalu. Sebuah kotak kardus yang mencicit dan mengendus di temukan di depan rumahnya dengan selembar kertas yang ditempelkan ke kotak kardus tersebut. "Hai semuanya!" bunyi pesan itu. "Selamat Hari Natal! Si kecil ini membutuhkan rumah, bisakah kalian memberinya? Salam sayang nenek."

George sangat bahagia memiliki babi itu. Hadiah-hadiah yang didapatnya dari ibu dan ayahnya tahun itu, seperti biasa, sangat parah. Sebenarnya, apa yang betul-betul diinginkan George, lebih dari segalanya di dunia ini, adalah sebuah komputer. Tapi ia tahu kecil sekali kemungkinan orangtuanya akan membelikannya. Orangtua George tidak menyukai penemuan-penemuan modern dan berusaha sedapat mungkin untuk tidak menggunakan peralatan-peralatan rumah tangga yang umum dipakai. Mereka ingin menjalani kehidupan secara murni dan tradisional, mereka bahkan mencuci pakaian dengan tangan dan tidak memiliki mobil dan menerangi rumah mereka dengan lilin untuk menghindari pemakaian listrik.

Semua itu dirancang untuk memberi George masa pertumbuhan yang alamiah dan lebih baik, bebas dari racun, bahan pengawet, radiasi, dan hal-hal lain yang berpengaruh buruk. Satu-satunya masalah adalah dalam usaha untuk menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin bisa berakibat buruk pada George, kedua orangtuanya juga menyingkirkan banyak hal yang bisa menyenangkan baginya. Ibu dan ayah George mungkin bisa menikmati acara tari-tarian tradisional, ikut demonstrasi aktivis lingkungan atau menggiling gandum untuk membuat roti sendiri, tapi George tidak. Dia ingin pergi ke taman hiburan, naik roller coaster, main game komputer, atau pergi naik pesawat terbang ke suatu tempat yang jauh. Tapi, untuk saat ini, dia hanya punya babi.

Dan sekarang babi itu pun telah hilang!
Mencoba tenang, George memeriksa kembali kandang Freddy dan mendapati bahwa dirinya tidak menutup pintu kandang dengan benar. Sungguh gawat bila ia sekali lagi mengacak-acak kebun sayur, menginjak-injak tanaman wortel, mengunyah kubis muda dan memamah bunga-bunga peliharaan Ibu George. Ayah dan Ibu George seorang vegetarian, tapi ia sangat yakin Ibunya akan mengubah Freddy menjadi sosis jika hal itu terjadi lagi. Tapi ternyata hari ini bukan kebun sayur yang Freddy rusak. Lebih gawat, ia menerobos pagar yang membatasi kebun dengan rumah sebelah.

Dalam rangka menemukan Freddy itulah, George jadi berkenalan dengan para tetangga barunya. Annie dan ayahnya yang ilmuan, Eric. Dia menemukan kunci rahasia yang membuka sudut pandang baru baginya dalam melihat dunia. Dari angkasa luar.

Hal itu dikarenakan Eric memiliki komputer paling canggih di dunia, Cosmos yang sangat cerdas, yang bisa berbicara dan membawa George dan teman-temanya ke manapun di dalam Alam Semesta. Tiba-tiba saja George sudah dibawa berjalan-jalan di ruang angkasa yang mahaluas, melewati planet-planet, menembus badai asteroid, ke tepian Sistem Tata Surya kita dan lebih jauh lagi. Sebelumnya, Eric memperingatkan dan menyuruhnya berjanji untuk tidak sekalipun menyebutkan tentang Cosmos kepada orang lain.....
"Ilmu pengetahuan bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan, tapi seperti telah kukatakan padaku tadi, bisa juga mengakibatkan kerusakan besar."
_Eric

Sangat disayangkan, George mengingkari janjinya. Dia menyebutkan perihal Cosmos kepada seseorang yang memang telah lama menginginkan Cosmos dan memiliki rencana-rencana jahat yang akan membawa Eric dan George ke dalam bahaya besar.

Dan tahukah kau? Tidak ada yang lebih berbahaya di luar angkasa selain lubang hitam (black hole)....

Mampukah Eric dan George keluar dari kesulitan yang ditimbulkan orang jahat yang menginginkan Cosmos tersebut?
Apakah pada akhirnya George dapat memiliki komputernya sendiri?
Dan bagaimana dengan orangtua George? Maukah mereka sedikit toleran dengan kemajuan ilmu pengetahuan?

Dalam kisah petualangan yang seru dan menegangkan ini banyak dipaparkan fakta ilmiah yang menarik tentang Alam Semesta; Mulai dari Langit Malam, Bulan, Cahaya dan Bintang, Partikel, Galaksi serta Planet-planet di dalamnya, termasuk gagasan-gagasan terbaru tentang lubang hitam dari Stephen Hawking sendiri. Dan senangnya fakta-fakta itu dijelaskan dengan gaya bahasa yang sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Berbagai informasi diselipkan di buku ini sehingga memudahkan kita, khususnya anak-anak untuk memahami isi buku ini. Juga terdapat foto-foto berwarna citra-citra sesungguhnya dari luar angkasa. Saya menikmati membaca fakta ilmiah di buku ini dan memahaminya dibandingkan saya membaca buku teks pelajaran fisika.
"Tidak ada yang abadi selamanya, George."
_Eric

Dan beruntungnya saya, membeli buku ini dengan harga hanya sepuluh-ribu-rupiah. Saya menemukannya saat itu di tumpukan buku yang didiskon di Gramedia Taman Anggrek. Lucky me ^^

Sedikit tentang pengarang:
Stephen dan Lucy Hawking adalah ayah dan anak. Lucy Hawking adalah pengarang novel dan penulis untuk banyak surat kabar Inggris. Sedangkan Stephen Hawking adalah Lucasian Profesor of Mathematics         
and Theoretical Physics di University of Cambridge. Dia dianggap salah seorang teoretikus fisika paling cemerlang setelah Einstein. Bukunya, A Brief History of Time, merupakan bestseller yang sangat sukses (terjual lebih dari 12 juta eksemplar di seluruh dunia) dan telah diterbitkan dalam lebih dari 30 bahasa.
Buku ini adalah hasil kolaborasi pertama mereka.

Nb: Dari buku ini akhirnya aku tahu mengapa pada Agustus 2006, International Astronomical Union memutuskan untuk tidak lagi menyebut Pluto sebagai planet.

Kamis, 27 September 2012

Bahkan Kenangan Memudar

"Ketemuka tadi 'A'."
"Oh? Dimana?"
" Di BNI, kerjai tawwa di sana."
"Ohhh..."

Begitu bunyi percakapan singkatku dengan tanteku tadi sore. Dia baru saja bertemu dengan seseorang yang kami kenal. Seorang lelaki yang dulu sering mampir ke rumah ini. Seorang mantan pacarku. Cinta pertamaku.
Aku menyadari bahwa orang yang dulunya begitu penting untukku sekarang bukan siapa-siapa lagi, bukan apa-apa. Aku tidak ambil pusing dengan pekerjaan apa yang ia kerjakan, bagaimana keadaannya, atau hal apapun yang terjadi dalam kehidupannya saat ini. Aku bahkan tidak berniat melanjutkan percakapan tentangnya dengan tanteku, tidak penting. Aku memilih melanjutkan membaca buku Seperti Sungai yang Mengalir karangan Paulo Coelho ini.
Tapi tiba-tiba aku berfikir, betapa apa yang dulunya kita anggap penting, sekarang bukan apa-apa lagi, tidak penting. Bisa saja apa yang kuanggap penting saat ini, suatu saat juga akan menjadi tidak penting lagi. Siapa yang tahu akan masa depan?
Nama lelaki itu dulunya pernah memenuhi buku harianku, sekarang aku hanya mengingat nama panggilannya saja. Dia yang dulu begitu kusayangi sekarang tidak memiliki tempat lagi di duniaku. Dia yang sukses membuatku menangis bermalam-malam ketika berpisah sekarang bahkan wajahnya telah memudar dari ingatanku. Akankah aku mengenalnya saat berpapasan dijalan?
Aku mencoba mengingat rupanya tapi yang muncul dihadapanku malah sosok lelaki lain. Lelaki yang sekarang berada dalam duniaku. Lelaki mentariku. Akankah suatu saat sosok lelaki ini juga memudar dan digantikan oleh lelaki lain?
Kurasa tidak. Jika dia tidak memilih melepasku, dia akan selalu berada dalam dunia ku. Tidak akan memudar~ Itu semua tergantung pilihannya. Toh dia yang akan rugi jika meninggalkan perempuan sepertiku ^^

Mungkin suatu saat kami akan berpapasan di jalan, Makassar toh tidak besar-besar amat, akankah kami saling menyapa? Atau berpura-pura sebagai dua orang yang tidak saling mengenal? Siapa yang tahu? 

Arti Penting Sebuah Gelar

"Saya ingat, tukang cukur saya bekerja siang-malam supaya anak perempuannya bisa lulus universitas dan memperoleh gelar. Akhirnya anak itu lulus, lalu mencari lowongan kerja ke mana-mana, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai sekertaris di sebuah pabrik semen. Tetap saja tukang cukur saya berkata dengan sangat bangga, "Anak perempuan saya punya gelar."
Sebagian teman saya, dan sebagian besar anak-anak mereka, juga punya gelar. Tetapi belum tentu mereka berhasil mendapatkan jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Sama sekali tidak. Mereka masuk universitas karena seseorang berkata--pada masa-masa ketika masuk universitas sangatlah penting--bahwa supaya bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia, orang mesti mempunyai gelar. Dengan demikian, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis.
Barangkali inilah saatnya untuk merenungkan kembali keadaan tersebut. Para dokter, insinyur, ilmuan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah setiap orang juga perlu berbuat demikian? Biarlah bait-bait puisi Robert Frost ini memberikan jawabannya:

Dua jalan bercabang di dalam hutan, dan aku...
Kupilih jalan yang jarang ditempuh,
Dan perbedaannya besar sungguh."

_Seperti Sungai yang Mengalir, Paulo Coelho

Ps: Membaca ini menyemangati perjalananku. Memantapkan langkahku  ^^ Thanks Meike atas pinjaman bukunya~

Sabtu, 22 September 2012

Takut

Gadis kecil tiba-tiba tercenung, terdiam, larut dalam pikiran yang datang tiba-tiba. Tidak, ini bukan perihal kecemburuan, bukan perihal iri hati. Ini jauh lebih kompleks.
Apakah jalan yang ia pilih salah?
Benarkah jalan yang telah dia ambil ini?
Ahhh ini juga bukan perihal penyesalan...
Tiba-tiba saja ketakutan mengambil alih. Bagaimana jika dia memilih jalan yang salah? Bagaimana jika masa depan yang ia pilih menuju kehancuran? Bagaimana jika? Bagaimana kalau?
Ketakutan ini rupanya telah lama bersarang, sedikit demi sedikit membesar, selayaknya tumor di hati. Mau bagaimana lagi jika di sekelilingnya mengisyaratkan hal tersebut. Padangan orang, suara-suara nyinyir dan lirikan sinis!!! "Mau jadi apa nanti?!! Ckckck..." dan kata-kata serupa yang ditujukan padanya...

Jika ia memiliki kekuatan untuk memutar waktu, haruskah ia menjadi anak baik seperti yang mereka inginkan? Dapatkah? Bukankah dia bahagia dengan pilihan yang ia ambil?!! Harusnya itu cukup bukan? Tapi mengapa sekarang ia begitu takut... Apakah harusnya ia mengambil jalan seperti Kugy, tokoh utama di novel Perahu Kertas itu? Berkompromi.

Pikirannya semakin kusut, melebihi benang sulam yang ia coba urai tadi. Sekarang ia bahagia, tapi terkadang takut itu datang. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa untuk sukses ia tidak perlu gelar! Toh memang ia tidak perduli akan gelar! Tak bergelar bukan berarti ia bodoh, tidak berpendidikan. Ia memang hidup di tempat yang mengagungkan gelar, tidak perduli bagaimana gelar itu didapatkan, yang penting bergelar! Membeli gelar sudah seperti perdagangan perempuan, ramai.
Dan bagaimana jika ia gagal? Jika ia tidak mampu membuktikan diri?

"Man, it's been a long night
Just sitting here, trying not to look back
Still looking at the road we never drove on
An wondering if the one I chose was the right one."
#Nowplaying Sad-Maroon 5

Sabtu, 15 September 2012

Polaris

Aku membuang pandanganku ke luar jendela pete-pete yang aku tumpangi. Memandangi kendaraan yang melaju dan kerlap-kerlip lampu kota ini, kota kelahiranku. Aku berfikir, mengapa aku tidak pernah punya keberanian untuk meninggalkan kota ini? Mencari kehidupan di tempat lain atau hanya sekedar menikmati petualangan, dan berkenalan dengan orang-orang baru. Kemudian aku menatap langit di atas sana. Gelap dan tanpa bintang. Rasanya sudah lama aku tak dapat melihat bintang lagi di sini. Makassar sudah terlalu di padati manusia. Manusia-manusia yang menyebabkan polusi cahaya, menutupi keelokan bintang. Sang bintang tidak mampu lagi bersaing dengan gemerlap kota ini. Menghela nafas, aku memasang headset di telingaku. Sebuah lagu dari Lady Antebellum; Dancing Away With My Heart, mengalun sendu...

"I haven't see you in ages
Sometimes I find my self wondering where you are
for me you'll always be eighteen and beutiful
and dancing away with my heart"

Sedang apa kau di sana?
Masihkah kau mengingatku?
Apakah kau baik-baik saja? Kau bahagia?

Berbagai pertanyaan tentangmu berkecamuk di kepalaku. Tak kuasa setetes air mata jatuh dan membasahi pipiku... Mengapa kau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal?
*****

Aku sudah tidak mengingat lagi bagaimana kita bisa menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Aku juga tidak tahu pasti permulaan persahabatan ini berubah menjadi hubungan yang lebih mendalam antara dua anak manusia. Kita dua orang aneh yang disatukan oleh keanehan masing-masing. Serasi, kata anak-anak yang lain. Meskipun bagiku tiada yang serasi diantara kita, kita sangat berbeda. Disatukan hanya karena sama-sama merasa asing dengan dunia ini. Kita tidak menemukan tempat kita di sini. Bahkan mungkin di sini bukanlah tempat kita. Bersama, kita bebas memasuki dunia masing-masing tanpa ada gangguan dari dunia luar.

Di dunia ku para peri beterbangan dengan riang, raja dan ratu hidup di kastil-kastil nan megah, pangeran-pangeran tampan berderap dengan kudanya yang gagah, putri-putri cantik yang berjiwa pemberontak tidak segan menyandang pedang untuk membela yang lemah, penyihir-penyihir adalah manusia yang bijak, dan makhluk kegelapan serta makhluk-makhluk fantasi lainnya hidup dengan bebas. Singkat kata aku hidup di dunia dongeng. Ya, itulah duniaku. Dimana segalanya mungkin dan setiap harinya adalah petualangan.

Dan kau adalah makhluk angkasa luar. Kau hanya tertarik pada hal-hal di atas sana yang berjarak ratusan, bahkan ribuan cahaya. Aku yakin kau ini Alien. Kau sedang mengemban misi di bumi ini. Sempat bercanda aku menanyaimu; "Apakah kau berniat menginvasi bumi duhai bapak alien yang terhormat?"

Kau hanya tersenyum dan malah menguliahiku tentang Galaksi Andromeda. Galaksi yang katamu berjarak 2,5 juta tahun cahaya. Entah dari Bumi atau Bima Sakti, sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikan ucapanmu, aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Kau mengoceh lagi bahwa Andromeda sebenarnya dapat dilihat dengan mata telanjang asalkan, dilihat pada malam yang cerah, tanpa bulan, dan tanpa polusi cahaya.

"Kapan kau akan menunjukkannya padaku?" Aku tiba-tiba memotong perkataanmu.

"Nanti, sekitar bulan September, Oktober, dan November-lah Galaksi Andromeda akan terlihat jelas. Saat itu kita akan pergi melihatnya." Jawabmu. Kau menatap mataku dan tersenyum dan akupun membalas senyuman itu.

"Janji?!!" Kataku lagi

Sekali lagi kau hanya tersenyum menatap mataku dan kembali melanjutkan kuliahmu tentang Galaksi Andromeda. Katamu Andromeda itu berisi sekitar satu triliun bintang. Dan ia bergerak mendekati Bima Sakti dengan kecepatan sekitar 300km/detik. Suatu saat Andromeda akan menabrak Bima Sakti, dan tabrakan itu katamu lagi akan meleburkan kedua Galaksi tersebut menjadi galaksi yang baru.

"Ahhh gampanglah," kataku, "Aku tinggal menaiki Pegasus dan terbang ke galaksi lain."

"Oh ia, kau tahu Pegasus?" Kataku lagi. "Ia adalah kuda yang memilki sayap dan mampu terbang jauh berhari-hari. Pegasus itu kuda jantan yang diciptakan Poseidon dari buih ombak. Ada juga rumor yang mengatakan dia anak Poseidon dan Medusa. Dulunya Medusa adalah perempuan yang cantik, sangat cantik. Tapi karena ulah Poseidon itulah ia dikutuk oleh Athena menjadi semenyeramkan sekarang. Mengapa perempuan yang selalu menjadi korban?" Ocehku kali ini.

"Aku tahu Pegasus." Katamu menanggapi ocehanku.

"Benarkah?" Tanyaku kurang percaya.

"Ya." Jawabmu. Kau tersenyum jahil dan kemudian berkata, "Pegasus terletak di belahan Utara. Pegasus adalah salah satu dari delapan-puluh-delapan Rasi Bintang Modern, dan juga satu dari empat-puluh-delapan rasi bintang yang didaftar oleh Ptolemy."

"Aha, Ptolemy!" Kataku sedikit kesal. "Ptolemy seorang penyihir yang hebat dan sangat dihormati. Dia sangat ahli dalam cabang ilmu sihir Astronomi dan Arithmancy. Dia hidup di Alexandria, Mesir, pada abad kedua Masehi. Penyihir Mesir memang hebat!"
*****

Hari ini aku sangat merindukanmu. Aku semakin kalut dengan ketiadaan bintang yang mampu mengobati sedikit rinduku. Bukankah kau berjanji akan selalu mengawasi malamku? Aku ingin melepaskan kesedihanku dengan menangis sekeras-kerasnya tapi aku masih di sini, di atas pete-pete yang melaju sangat lambat. Macet. Makassar sudah macet, tahukah kau? Dapatkah kau melihat kami dari atas sana? 

Setetes, dua tetes dan akhirnya tangis ini tidak dapa terbendung lagi. Aku berusaha menyembunyikannya dari pandangan orang-orang, dan mencoba menghapus air mata yang terus mengalir. Aku ingat kau berkata tidak suka melihatku menangis, kau ikutan sedih jadinya. Maaf... Tapi bisakah kau sedih di sana? Mengertikah kau dengan perasaan orang-orang yang kau tinggalkan? Dan mengapa, dulu didepanku kau selalu bertingkah sehat? Mengapa kau tidak memberitahuku perihal penyakitmu? Mengapa kau tidak menyiapkanku menghadapi hal ini? Mengapa, mengapa, dan mengapa? Aku membencimu!

Aku hanya ingin melihat satu bintang hari ini, bintang yang akan mengobati rinduku, yang menghapus kebencianku. Bintangku. Kamu. Polaris
*****

Kemudian aku mengingat saat kita berdua di pulau itu. Dimana kita memasang kemah di pantainya, agak jauh dari batas pasang-surut air laut, dan memandangi kota Makassar dari kejauhan. Kau kemudian menghamparkan sarung di pasir pantai dan mengajakku berbaring menatap angkasa, mengenalkan duniamu. Kita pun terdiam menatap hamparan gemintang dan saling menikmati kebersamaan masing-masing, kau menggenggam tanganku erat.

Perlahan deburan ombak dan hembusan angin mulai meninabobo-kan ku. Kau tiba-tiba menunjuk ke angkasa, mengagetkanku, membuat mataku kembali awas.

Kau menunjuk sebuah bintang dan berkata, "Lihatlah bintang paling terang di Rasi Ursa Minor itu. Namanya Polaris, kadang orang menyebutnya Bintang Utara atau Bintang Kutub. Karena perputaran Bumi dari barat ke timur membuat langit seolah-olah berputar dari timur ke barat, sehingga Kutub Utara Langit, seperti Kutub Utara Bumi, diam tak bergerak. Polaris, yang letaknya di dekat Kutub Utara Langit hanya membuat lingkaran kecil disekelilingnya, sehingga Polaris kelihatan selalu berada di tempat yang sama. Selalu di utara."

"Hmmmm..." Ujarku mengantuk.

" Jika suatu saat aku harus pergi, ingatlah aku akan tetap ada. Aku adalah Polaris yang akan selalu menemani malammu. Bersinar terang di Utara. Menjagamu dari kegelapan, dan petunjuk arahmu jika kau tersesat. Jika suatu saat kau merindukanku, cukuplah memandang ke Utara, aku ada di sana."





Minggu, 09 September 2012

Berburu Giveaway

Giveaway dimana-dimana dan saya happy sekali '\(^_^)/' Berikut giveaway yang saya ikuti, siapa tahu kalian berniat juga ikutan, lumayan gratisan. HEHEHE...

An affair with Findia Astuti

September Giveaway

First September Giveaway


Xiao Vee's 2nd Giveaway

Mimoyoja's Blog First Giveaway

September Special Giveaway

Rabu, 05 September 2012

Elmo Untuk Intan

 

Seorang teman yang sangat mencintai Elmo memintaku membuatkannya cusion ini. Aku membuatnya dari flanel yang diisi dakron, untuk mata, mulut dan hidungnya aku jahit tangan menggunakan tusuk feston dan untuk menyatukan semuanya menggunakan mesin jahit. Semoga Intan suka dan Elmo ini telah terbang ke Bandung...

Jika kalian berminat juga silahkan mention saya di @dwianantasari atau email ke: tobowbow@gmail.com



Balada Ipad


Mengingat kesuksesanku mengumpulkan uang untuk tiket pesawat pulang-pergi Jakarta + tiket konser Super Show 4 hanya dalam satu bulan, saya pun kembali berkeinginan menabung untuk membeli Ipad. Yiah berhubung menabung membeli New Macbook Air akan memakan waktu berpuluh-puluh tahun (mungkin ini lebay) dengan kondisi keuangan yang gak tetap (maklum, pengangguran) jadilah gadget impiannya untuk sementara digantikan Ipad dulu yang kira-kira bisalah dibeli dengan kondisi keuangan seperti ini. Dan itupun Ipad yang diincar bukan New Ipad hanya Ipad 2 yang tidak memiliki 3G, cukup dengan wifi saja~

Maka dimulailah proses penabungan yang lumayan mengetatkan ikat pinggang. Mengurangi jajan dan keluar rumah dan yang paling nyesek adalah tidak membeli buku untuk sebentara waktu. Hal ini menyebabkan saya tidak berani memasuki Gramedia atau toko buku apapun, takut tergoda, takut tekad menabungnya luruh, dan takut ketika keluar dari toko buku tersebut, moodnya memburuk. Jiah… Lumayan menguras energi untuk mengukuhkan tekad.

Tanggal lima Agustus, aku, dia beserta keluarganya berbuka puasa di Trans Mall (untuk selanjutnya kita sebut TM). Setelah berbuka tentu saja dilanjut dengan jalan-jalan. Dan kenapa semua baju dan sepatu itu di didiskon?!! Untungnya aku tidak membawa uang tabunganku yang kusimpan dengan aman di rumah. Gak berani bawa ya itu, takut tergoda~
Di TM ternyata telah di buka toko Infinite yang merupakan distributor produk apple. Isenglah saya masuk dan pegang-pegang macbook air kasian, dalam hati bertanya-tanya kapan ya bisa punya ini. Setelah itu saya beralih mengutak-atik ipad dan dia bertanya harga ipad tersebut. Dan tahukah? Ipad 2-nya sedang di diskon!!! Woooowwwww… senangnya!!! Bisalah saya memilikinya dalam waktu dekat ini. Secepat saya terbang ke langit membayangkan akan memiliki ipad, secepat itu juga saya terhempas di bumi. Olalala~ Diskonnya berakhir hari itu. Gila! Kenapa saya tidak membawa uangku? Kenapa????? Sungguh hari itu berakhir dengan penggalauan. Sedikit lagi, seharusnya benda itu sudah di tangan, tapi ya…. Menelan ludah saya berkata dalam hati, mungkin belum rejeki.

Besoknya dia mengsms-ku, mengatakan ayo kita ke TM lagi, siapa tahu diskonnya masih berlaku, tidak ada salahnya bertanya. Sayapun mengiakan. Setelah maghrib kami pun ke sana. Dan bertanya, dia yang bertanya, dan ternyata memang harganya tidak berubah. Belum. Perasaan senangnya sudah tidak tertahankan lagi, sayapun membeli ipad tersebut. Pembayaran telah dilakukan, saya kembali mengutak-atik macbook air, sembari berdoa, suatu saat semoga bisa memiliki benda ini. Lalu segel ipad di buka, mulai diajari cara pemakaian dan membuat Apple ID. Mbaknya pun mulai membungkus sang ipad untuk saya bawa pulang. Tapi anehnya prosesnya berjalan lambat, sangat lambat. Tak terlalu ambil pusing, saya malah sibuk dengan hp dan twitter. Dan…. Masnya meminta maaf, ternyata harga Ipadnya telah kembali ke harga normal!!! Apa-apaan tentu saja jika telah kembali ke harga normal uang ku belum mencukupi. Bayangkan betapa kecewanya saya… Saya sudah membayar, segel ipad telah di buka dan saya telah membuat Apple ID. Saya sudah membayangkan membawanya pulang dan menggunakannya. Lalu kesalahan terletak di siapa? Sayakah yang telah terlebih dahulu bertanya?

Mas-masnya kembali meminta maaf. Saya bisa apa selain terpaksa tersenyum (senyum kacci, istilah di sini). Dia memberi kami saran untuk menunggu sampai besok, dia akan menghubungi saya, ketika telah bertanya kepada kantor pusat perihal hal ini. Saya mengiakan, uang dikembalikan, dan kami pun pulang. Sekali lagi menelan ludah dan berkata dalam hati, ya mungkin belum rejeki…

…..
Besoknya hati dag dig dug menunggu kabar… “Ayolah… Telpon saya telpon saya. Kabarkan hal yang menyenangkan hati saya… Ayolahhhh…” Bisikku kepada HP kuning kesayanganku, yang sedari tadi pagi ku pegang tapi tidak juga berdering. Hingga siang saya menunggu telpon, sudah hampir putus asa, yiah… mungkin belum rejeki. Untuk menyenangkan hati, saya berjanji jika tidak ada telpon sampai malam nanti saya akan membeli setidaknya lima buku yang telah lama saya incar. Sedikit tenang saya kembali melanjutkan aktifitas.
Dan berderinglah HP saya, ringtone Sexy Free and Single berbunyi nyaring~ Dari kamar saya segera berlari menuju ruang tamu, tempat HP ku tergeletak manis. Dan yup itu dari mas-mas Infinite, dan yup ia mengabarkan perihal ipad saya. Harganya naik sembilan-puluh-sembilan-ribu dari harga diskon kemarin. Dan iyap saya tetap membelinya, masih mendinglah dibandingkan harga normal!

Maka selepas Isya berangkatlah saya dengannya menuju TM menjemput sang ipad… Misipun sukses.

Sebuah hadiah ulang tahun untuk diri sendiri....




Selasa, 04 September 2012

Cerita Rindu

Ada setitik kisah rindu di sini.
Sebuah rindu yang tak tersampaikan,
yang tidak memiliki tempat untuk berlabuh.
Pemiliknya kehilangan arah, kehilangan tujuan.
Kemanakah ia akan melangkah?
Ketika semuanya tidak lagi berarti~

_Makassar, 18 Agustus 2012

Minggu, 02 September 2012

Ocehan Dini Hari & Love Story

Malam ini, mungkin lebih tepat jika kukatakan dini hari ini, kulewati dengan membaca kembali novel “Love Story” karangan Erich Segal. Ini mungkin sudah keberibu kalinya aku membaca novel ini, sebuah kisah cinta antara Oliver Barrett IV dan Jenny Cavilleri. Tentang perbedaan, mimpi dan keberanian. Tentang hubungan orangtua dan anak, dan tentu saja tentang cinta itu sendiri. Ahh dan tentang pencuri~ yang bernama kematian...

Aku sering bertanya, mengapa kisah cinta yang berakhir kematian begitu populer? Mungkinkah kecenderungan manusia untuk tertarik akan tragedi? Atau hanya kesadaran bahwa pada akhirnya kisah cinta apapun akan berakhir. Ia akan berakhir. Dan kita akan mati. Tapi di sisi lain, cinta itu abadi bukan?!! Meskipun orang yang kita cintai telah tiada, ia masih tetap hidup di hati kita. Dan suatu saat mungkin kita akan berjumpa kembali di kehidupan selanjutnya. Ahh... Sepertinya saya mulai melantur.

Kembali kenovel tadi, aku sangat menyukai moment ketika mereka menikah dan Oliver mengucapkan janji pernikahan, dalam hal ini dia mengutip sajak Song of the Open Road, karya Walt Whitman. Oliver merasa, meskipun singkat, sajak itu mampu mewakili perasaannya terhadap Jenny. Dan menurutku, itu sangat romantis >.< Perempuan memang gampang terluluhkan dengan kata-kata indah ^^ Tapi kami tidak bodoh, kami dapat menilai apakah kata indah itu di ucapkan dengan tulus atau hanya sekedar ucapan kosong~ Melantur lagi! Sepertinya ngantuk telah mengambil alih...
Selamat malam dan mimpi indah para pemimpi~ Happy weekand! (meskipun telat)

“...I give you my hand!
I give you my love more precious than money
I give you myself before preaching or law;
Will you give me yourself? Will you travel with me?
Shall we stick by each other as long as we live?”
_Song of the Open Road, Walt Whitman

Share It