Rabu, 31 Oktober 2012

{Hadiah!!!!}

Menyenangkan memiliki banyak teman dan lebih menyenangkan lagi jika diberi hadiah. Bulan Oktober ini saya menerima lumayan banyak hadiah dari beberapa teman. Senang sekali rasanya~

Dari

Ini dari Meike. Saat ia bertualang ke negeri tetangga ia tidak lupa membawakanku oleh-oleh berupa beberapa kartu pos, gantungan kunci, dan gelang kaki yang sangat manis. Saya suka sekali gelang kakinya, jika saat berjalan ia akan berbunyi klintingan~



Ini gantungan kunci dari Mas Gerandis. Saat pulang dari berlibur di Menado, pesawatnya teransit di Makassar lumayan lama, kami menyempatkan diri bertemu. Sayangnya hari itu saya sudah punya banyak janji, sehingga kami hanya bertemu sebentar. Next time, jika ada kesempatan ke Makassar lagi, jangan kapok hubungi saya ya....


 
Nah tumpukan buku ini dari Lelaki Mentariku. Saat itu ada Gramedia Kompas Fair di Makassar dan saya mengajaknya menemani saya melihat-lihat. Saya berniat membeli paling tidak satu buku di sana. Setibanya di sana saya kalap, banyak buku bagus yang di diskon lumayan dan sedihnya kondisi keuangan saya belum stabil.
Melihat muka saya yang memperihatinkan, dia jadinya kasihan dan meninggalkan saya di sana untuk memgambil uang di ATM (saat itu dia tidak membawa uang) dan membelikan saya buku-buku ini. Rasanya ketiban durian runtuh deh!!!


 
Saya mengikuti Tell Me Your Wish di blog buku Reading In The Morning bulan September lalu dan buku pilihanku, "Botchan", terpilih. Akhirnya buku ini ditangan juga.



Ini dari "adikku" Ryana. The Son of Neptune ini adalah hadiah ulang tahun ku bulan Agustus lalu yang baru ia berikan bulan Oktober. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kado ulang tahun!



Aku mengikuti giveaway yang diadakan oleh Abel, pemilik Myurbey. Dan lucky me, aku memenangkan sebuah cushion yang empuk ini ^^

The Invention Of Hugo Cabret

THE INVENTION OF HUGO CABRET
Scholastic Press, New York, 2007
by Brian Selznick

Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Dhewiberta
Pemeriksa aksara: Ifah Nurjany
Penata aksara: Iyan Wb
Perancang sampul: Brian Selznick
Ilustrasi isi: Brian Selznick

Cetakan I, Januari 2012
533 halaman

Penerbit Mizan Fantasi

"Meskipun semua jam di stasiun rusak, waktu tidak akan berhenti, Bahkan tidak meskipun kita sangat menginginkannya."
_Hugo

Ayah Hugo memiliki toko jam dan bekerja paruh waktu di sebuah museum tua untuk memperbaiki jam-jam di sana. Suatu hari ia pulang lebih lambat dari biasanya. Ia bercerita pada Hugo bahwa ia menemukan benda menakjubkan di loteng museum.... Sebuah automatom. Tidak ada yang mengetahui mengapa benda itu ada di sana, ayah Hogo sangat penasaran dengan automatom itu dan berniat memperbaikinya.

Ayah Hugo yang telah terobsesi untuk memperbaiki automatom itu, sering mengajak Hugo ke museum dan menjelaskan bagaimana mekanisme mesin itu berjalan. Mereka optimis bahwa benda itu dapat diperbaiki dan menganggap automatom itu hewan terluka yang mereka rawat agar sembuh kembali.
Tapi suatu hari, penjaga tua di museum lupa bahwa ayah Hugo sedang bekerja di loteng, lalu ia mengunci pintu sehingga ayah Hugo terkurung di dalam. Dan entah bagaimana terjadi kebakaran.

Semenjak itu Hugo tinggal bersama Paman Claude di stasiun. Paman Claude bekerja sebagai Perawat Waktu, ia merawat jam-jam di stasiun, menjaganya agar terus berputar, dan jika ada kerusakan, ia memperbaikinya.

Hugo diajari cara merawat jam-jam itu, bukan hal yang sulit untuknya, sedari berumur enam tahun, Hugo telah mampu memperbaiki apa saja dan membuat mainan binatang mekanis dari sisa-sisa bagian jam yang tergeletak di mana-mana di toko ayahnya. Ia menikmati pekerjaan itu. Ia sering membayangkan bahwa kepalanya sendiri penuh dengan gigi dan gir seperti mesin, dan ia merasakan hubungan dengan mesin apapun yang ia sentuh. Ia sangat suka mempelajari cara kerja jam-jam di stasiun, dan ada semacam kepuasan ketika ia memanjat di balik dinding dan diam-diam memperbaiki jam-jam itu tanpa dilihat siapapun.

Hanya saja, hampir tidak pernah ada makanan, dan Paman Claude sering membentak Hugo, memukul buku jarinya jika ia berbuat kesalahan, dan memaksanya tidur di lantai yang dingin. Paman Claude juga mengajarkannya mencuri, hal yang paling tidak disukainya, tetapi terkadang itulah satu-satunya cara untuknya mendpatkan makanan. Hampir tiap malam ia menangis diam-diam hingga tertidur. Merindukan ayahnya.

Tidak lama kemudian, Paman Claude mulai sering menghilang selama berjam-jam, meninggalkan Hugo untuk merawat jam-jam, dua kali sehari, seorang diri. Lalu suatu hari Paman Claude tidak pernah pulang lagi. Hugo berniat kabur, tapi segera ia menyadari tidak tahu harus kemana, sehingga ia kembali ke stasiun itu.

Ia hidup bagaikan hantu. Menyelinap dari satu bilik ke bilik lain, menyusuri lorong tak terlihat, dan mengendap-endap di bawah temaram lampu stasiun kota. Ia menyembunyikan automatom dari museum yang terbakar, berusaha memperbaikinya seorang diri. Berbekal pengetahuan dari buku catatan ayahnya,  satu-satunya pengikat dirinya dengan masa lalu sekaligus masa depannya. Tapi ada seorang pria tua berwajah muram yang berusaha menghalangi usaha Hugo memperbaiki automatom tersebut. Ia malah mengambil buku catatan ayahnya dan berniat membakarnya. Dibantu seorang gadis kecil, anak angkat pria tua tersebut, Hugo berusaha mendapatkan kembali buku catatan ayahnya dan memperbaiki automatom itu.

Apa hubungan pria tua itu dengan automatom yang ingin Hugo perbaiki?
Dapatkah Hugo menggapai mimpinya dan memperbaiki automatom tersebut?

Sudah lama saya memiliki buku ini, sekitar akhir Januari yang lalu, dibelikan oleh sang pacar, tapi entahlah mood untuk menceritakannya baru ada sekarang. Saya langsung jatuh cinta dengan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya. Brian Selznick bukan hanya bertutur melalui narasi yang mengagumkan, tetapi juga melalui goresan ilustrasinya yang matang dan kaya makna.

"Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebihan dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu."
_Hugo

Buku ini bercerita tentang rahasia yang hilang dan kekuatan mimpi. Dan buku ini juga didasarkan oleh biografi Georges Melies~

Sangat rugi buatku jika tidak memiliki buku ini, sayangnya saat melihat versi englishnya dan membandingkannya dengan terbitan Mizan, saya sangat kecewa. Bukan didasarkan pada isi/makna cerita, berhubung english saya juga blepotan, tapi dari ilustrasi-ilustrasinya. Di terbitan englishnya lebih bagus tercetaknya di atas kertas, lebih jelas, dan lebih terang...
Oh ia ini satu-satunya buku bagiku yang ketika di filmkan, dan ceritanya sedikit di ubah, tetap kunikmati saat menontonnya. Tidak mengomel saat menonton. Saya menyukai baik versi buku maupun versi filmnya. Keduanya memiliki kekuatan tersendiri... Meskipun di film ada satu tokoh yang dihilangkan.

Kamis, 11 Oktober 2012

Seperti Sungai yang Mengalir


Ser Como O Rio Que Flui
by Paulo Coelho
Copyright @ 2006 by Paulo Coelho
This edition was publishhed by arrangements with Sant Jordi Asociados Agencia Literaria S.L.U.,
Barcelona, Spain

Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Jadilah seperti sungai yang mengalir,
Hening di kala malam.
Usah takut pada kegelapan.
Pantulkan bintang-bintang.
Jelmakan pula awan-awan,
Sebab awan itulah air, tiada beda dengan sungai,
Maka pantulkan juga dengan suka cita,
Di kedalamanmu sendiri yang tentram.
_Manuel Bandeira

Seperti Sungai yang Mengalir adalah kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho. Berisi  seratus-dua kisah dan artikel yang telah diterbitkan di surat kabar di berbagai penjuru dunia, dan dikumpulkan menjadi satu buku atas permintaan para pembacanya.

Buku ini memuat kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Kadang humoris, kadang serius, tapi selalu bermakna dalam, buku ini, seperti semua karya Coelho lainnya, mengeksplorasi artinya hidup sepenuh-penuhnya.

Ada Kisah Sebatang Pensil, sebuah percakapan bermakna antara seorang nenek dan cucunya. Ada Pedoman Mendaki Gunung, sebuah tips dan trik dari Coelho, untuk mengatasi rintangan dan mencapai "puncak gunung", Ada juga Sebuah Bar di Tokyo, kisah tentang wanita Jepang bernama Hoki yang merupakan istri dari seorang penulis dan pelukis terkenal , Henry Miller. Sepeninggalan Henry Miller, Hoki hanya menyimpan beberapa foto, dua atau tiga cat air yang telah ditandatangani, dan sebuah buku yang dipersembahkan untuknya. Hanya itu. Ahli waris dari pernikahan-pernikah Henry sebelumnya yang mendapatkan segala-galanya, tapi baginya itu tidak penting. Kehidupan yang pernah dijalaninya bersama Miller tak bisa digantikan dengan uang berapapun.

"Buat apa bertengkar memperebutkan warisan, cinta sudah cukup."

Dan masih banyak kisah dan artikel lainnya yang membuatku tidak mampu meletakkan buku ini meskipun malam telah semakin larut. Sekali lagi makasih untuk Meike yang selalu meminjamkan buku-buku Paulo Coelho-nya padaku. Tapi kali ini saya wajib memiliki buku ini, bagaimanapun caranya.

Oh ia kisah dan artikel favorit saya di buku ini adalah; Arti Penting Sebuah Gelar, Pamain Piano di Mall, Praha 1981, Dari Gelap Menjadi Terang, Ketetapan-ketetapan Untuk Milenium yang Baru, Kemulian yang Tidak Kekal, Air Mata Padang Gurun, Manusia Memang Aneh, Terima Kasih Presiden Bush, Orang Katolik dan Orang Muslim, Hukum Jante, dan Badai Kian Mendekat.

Juga artikel terakhir, Beberapa Doa Penutup, berisi beberapa doa yang dipanjatkan orang-orang suci, sangat pas dan cerdik ditempatkan di akhir buku; Dhammapada (kapada sang Buddha, Jalaluddin Rumi, Nabi Muhammad, Yesus dari Nazaret, Doa Yahudi untuk Perdamaian, dan Lao Tzu.



Kartu Pos & Kartu Lebaran Dari Fina




Kartu pos dan kartu lebaran ini tibanya akhir Agustus (eh, apa awal September ya?). Lumayan lama juga sampainya, berhubung kartu ini datangnya dari Pekanbaru, Riau. Fina yang katanya baru kali ini mengirim surat sudah sempat mengira kartu-kartu ini gak bakalan sampai saking lamanya. Fina ini juga salah satu teman yang "kutemui" lewat jejaring sosial, dalam hal ini twitter.

Kartu posnya bergambar Danau Toba yang berada di Sumatera Utara, kata Fina kartu pos khas Riau tidak ada. Mungkin ini karena sudah sangat jarang ya yang mengirimkan kartu pos?

Senin, 08 Oktober 2012

Membagi Buku di Don't Pay, It's Free

4 Oktober 2012... 
Sekitar jam setengah satu siang saya mengangkut satu tas hijau besar berisi puluhan buku dan bersegera menujun ke UNHAS. Lumayan berat juga mengangkat buku-buku itu, sedikit mengeluh saya mengangkatnya. Saya ada janji dengan kak Eka akan bertemu di Workshop UNHAS. Puluhan buku di dalam tas itu niatnya akan saya sumbangakan/bagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat, dititipkan bersama barang-barang lain di Don't Pay, It's Free Makassar.

Apa itu Don't Pay, It's Free Makassar?
Mengutip dari blog kak Eka; "Adalah sebuah komunitas yang terbuka bagi siapa saja yang mempunyai misi yang sama untuk mengurangi sampah dan konsumerisme serta menjalin relasi sosial tanpa didasarkan pada nilai uang. Tujuannya adalah mempromosikan gerakan sosial yang mengedepankan pada kecintaan pada lingkungan dengan mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak terpakai namun masih layak dengan membagikannya secara geratis. Sesama anggota juga bisa saling barter barang-barang yang mereka punyai tanpa harus membayar sepeser pun.

Mari kita saling berbagi, mendaur ulang, dan menjaga kelestarian bumi kita tercinta.

Stop consumerism~ Let's recycle~ and love our earth

Mari bergabung di:
FB group: Don't Pay, It's Free! Makassar
Twitter: @DontPayItsFree dan dua orang "pengurusnya" @nyomnyomz & @ekbess
Email: freecyclemakassar@gmail.com"

Hari ini merupakan lapakan ke dua, lapakan pertama diselenggarakan pada tanggal 7 September yang lalu. Dan katanya sukses barang-barangnya di borong warga, mahasiswa, dan sesama anggota. Sayangnya saya baru tahu tentang komunitas ini setelah ceritanya di posting oleh kak Eka di blognya. "Lain kali saya mau ikutan ahh," begitu pikir saya saat membacanya. Hanya sekedar ingin melihat-lihat saja, tidak ada niatan membawa buku sekantongan besar.

Ketika sedang membereskan tumpukan buku yang tidak muat di lemari buku, saya menemukan beberapa buku yang kondisinya sangat menyedihkan. Habis di makan rayap, lembab, menguning dan hitam, serta penyok-penyok tertindis barang-barang lain. Sedih juga lihatnya, meskipun buku-buku yang di luar lemari buku itu sebagian besar adalah buku-buku yang tidak saya sukai, tidak pernah saya baca atau berhenti ditengah-tengah karena ceritanya membosankan menurut saya, tapi itu tetap buku. Benda yang paling saya cintai.

Saya lalu menyortirnya, dan ternyata ditumpukan itu ada beberapa buku kesukaanku yang kupikir telah hilang, sedangkan di lemari buku ada beberapa buku yang malah tidak pernah atau tidak mau saya baca. Setelah dipilah-pilah dan buku-buku yang tidak pernah saya baca, buku yang saya baca hanya setengah, dan buku yang tidak ada niat lagi saya membacanya saya tumpuk menjadi satu. Mau diapakan buku-buku ini? Teringat postingan kak Eka, saya lalu meng-SMS-nya, bertanya kapan lapakan kedua don't pay, it's free. Tanggal 4, jawabnya. Saya lalu memasukkan buku-buku tersebut kedalam tas kain super gede berwarna hijau dari swalayan ternama. Dan menunggu tanggal empat itu tiba.

Sudah lama tidak menginjakkan kaki di kampus, saya salah memperhitungkan waktu dari rumah sampai sana. Saya datangnya telat. Hampir jam dua saya baru tiba di sana. Tapi senangnya, buku-buku yang saya bawa sukses diborong warga. Wah ternyata minat baca orang-orang besar juga. Beberapa buku ada juga diambil anggota dan mahasiswa yang kebetulan lewat. Memberi dan melihat yang diberi barang itu antusias menerimanya rasanya sangat menyenangkan ya ^^
Bagi yang telah mengadopsi buku-buku saya, terimakasih ya dan semoga bermanfaat. Selamat membaca ^^

 Mari di borong, maximal satu orang tiga barang ya.

Sisa barang setelah diserbu pemborong gelombang pertama.


"Saya sekedar meyakini bahwa sebuah buku mempunyai perjalananya sendiri, dan tidak seharusnya dikurung di dalam rak."
_Paulo Coelho

Orang Katolik dan Orang Muslim

"Saya mengobrol dengan seorang pastor Katolik dan seorang pria Muslim yang masih muda, sambil makan siang. Ketika pelayan datang membawa nampan, kami mengambil makanan, kecuali pria Muslim itu, sebab dia sedang berpuasa sesuai ajaran agamanya.
Setelah makan siang selesai dan orang-orang mulai beranjak, salah seorang tamu di situ berujar, "Kalian lihat betapa fanatiknya orang-orang Muslim itu! Untunglah kalian orang-orang Katolik tidak seperti mereka."
"Tetapi kami pun sama," sahut sang pastor. "Dia berusaha mematuhi Tuhan, sama seperti saya. Hanya saja kami mengikuti hukum-hukum yang berbeda." Dan dia mengakhiri ucapannya dengan berkata, "Sayang sekali orang-orang hanya melihat perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka. Seandainya kita memandang dengan rasa kasih yang lebih besar, kita akan lebih banyak melihat kesamaan-kesamaan di antara kita, dan sebagaian dari masalah-masalah di dunia ini akan terselesaikan.""
_Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir

Nb: Saya percaya Tuhan itu satu. Saya yakin tiap agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang dan pada dasarnya kita menyembah Tuhan yang sama hanya cara dan nama yang kita gunakan memanggilnya berbeda. Saya percaya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda untuk mengajarkan kita bertoleransi dan saling menyayangi. Tuhan ada dimana-mana dan semuanya, baik itu baik atau buruk datangnya dari Tuhan.
Lalu mengapa mengatas namakan Tuhan untuk berperang? Mengapa karena agama manusia saling membunuh? Padahal perbedaan itu indah~

Selasa, 02 Oktober 2012

Guru Yang Mengajarkanku Memaafkan


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu....

Itu adalah lirik dari Himne Guru yang setiap hari guru dinyanyikan di sekolahku. Ada perasaan sinis setiap aku menyanyikan lagu ini. Maaf saja, di sekolahku itu hanya terhitung jari guru-guru yang saya hormati atau lebih tepat dapat dihormati. Selebihnya? Sangat membuatku kecewa. Atau mungkin aku yang terlalu menilai tinggi profesi ini? Sehingga ketika pada kenyataannya tidak seperti "itu", aku sendiri yang kecewa.

Dulunya, aku beranggapan guru adalah seseorang yang membimbing kita menemukan potensi diri. Guru adalah seseorang yang membantu kita menemukan cita-cita dan tujuan hidup kita. Guru adalah seseorang yang membuat kita mengerti dan memahami pelajaran yang ia ajarkan, dan jika ternyata kita tidak mampu dalam pelajaran yang ia ajarkan ia akan membesarkan hati kita dan tanpa lelah terus mengajar kita. Guru adalah seseorang yang memang terpanggil untuk mengajar. Guru adalah seseorang yang mencintai anak-anak dan remaja. Apakah aku salah mengharapkan hal-hal di atas ketika mendengar kata "guru"?

Awal SMA bisa dikatakan aku mulai memperhatikan sekitarku, hidup tidak lagi menjadi seputar diriku. Aku memperhatikan dan kemudian menyadari banyak guru di SMA ku tersebut yang mementingkan mencari uang dibandingkan membuat kami mengerti pelajarannya. Tinggal membeli buku cetak dan LKS, maka nilai kami telah terjamin. Dan ketika ulangan dan ternyata nilai kami tidak memenuhi standar, tidak perlu repot, kami tidak perlu melakukan remedial, hanya membayar senilai tertentu (tergantung gurunya), maka bereslah. Memang tidak semua guru di sekolahku itu yang melakukan hal tersebut, ada juga beberapa guru yang sangat kuhormati. Yang hingga sekarang namanya selalu hidup dalam sanubariku... Seperti lagu himne guru itu.... Hanya beberapa.....

Dan mirisnya, teman-temanku malah menyukai melakukan pembayaran tersebut. Tidak perlu repot bagi mereka, tinggal mengeluarkan uang dan nilai mereka terjamin. Buat apa repot-repot belajar? Dan masalah bagiku, sebagai anak yatim piatu, mengeluarkan uang untuk melakukan pembayaran untuk menjamin nilai-nilai di matapelajaran tertentu, terasa sangat berat. Sempat juga terpikir, jika aku masih memiliki orangtua, akankah aku juga merasa tidak keberatan mengeluarkan uang untuk menjamin nilai-nilaiku? Apakah ini hanya masalah iri hati? Karena aku tidak seperti teman-temanku?

Kembali ke guru, ada satu orang guru yang jika kuingat selalu menimbulkan perasaan sakit hati. Saat itu dia menjadi wali kelasku. Saat kenaikan kelas, di aula aku di umumkan sebagai peringkat ke tujuh di kelasku. Senang? Biasa saja. Tidak merasa sombong, hanya saja sudah lama aku menyadari nilai tidak pernah penting. Mereka gampang dimanipulasi. Singkat cerita, saat aku memegang raport ku, raport sementara, aku dinyatakan naik dengan bersyarat. "Apa-apaan ini?!!" pikirku saat itu. "Bukankah aku berada di peringkat ke tujuh?!! Mengapa aku naik dengan bersyarat?!! Jadi semua dibawahku naik bersyarat juga??? Parah!!!"

Ternyata kenyataannya lebih parah bagiku. Yang naik bersyarat di kelasku hanya ada tiga orang (apa lima ya? sudah agak lupa. Males ingatnya)!!! Tidak terima aku mulai protes dengan guru itu dan sedikit ngotot, ya agak tidak sopan si pada orang yang lebih tua, aku mengambil daftar nilai yang ia pegang. Jelaslah sangat berbeda dengan nilai yang ia pegang dengan nilai yang tercetak di raport sementaraku. Daftar nilai yang ia pegang sangat pantas untuk diriku berada di peringkat ke tujuh, sementara yang tercetak di raport sementaraku, yiah memang sangat pantas aku naik dengan bersyarat.

Lalu mana yang benar? Aku cenderung percaya pada daftar nilai yang ia pegang!Mengapa? Hey siapa pun tahu dan aku tahu, aku bukan anak yang bodoh ataupun malas mengumpulkan tugas. Dan meskipun aku tidak berada di peringkat ketujuh aku tidak mungkin naik dengan bersyarat! Kesombongan? Entahlah tapi aku yakin aku benar saat itu. Apa guru ini membenciku? Atau karena aku tidak pernah memberinya " buah tangan" jadi ia memperlakukanku seperti ini? Ia wali kelasku yang ini memang tipe guru matre, seperti yang kujabarkan diatas.

Sang guru memberikan alasan ada kesalah ketik dan bla bla bla... Intinya aku disuruh saja mengumpulkan tugas untuk naik kelas. Toh hanya mengumpulkan tugas. Marah dan sakit hati, aku menangis. Merasa sangat tidak berdaya dan aku benci perasaan itu. Ini nama baikku yang ia cemari, harga diriku terluka. Lebai? Mungkin. Aku paling benci jika mendapat perlakuan yang tidak adil. Dan aku tidak memiliki dan mungkin tidak mempercayai orang sebagai tempat mengadu, tempat untuk berkeluh-kesah. "Andai saja orangtuaku masih hidup, pasti hal ini tidak akan terjadi kepadaku." begitu pikirku saat itu. Apa hubunganya? Sejujurnya aku malas menjelaskannya.

Semenjak itu aku mulai sinis menanggapi guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan orang yang sangat berjasa bagi perkembangan pengetahuan kita. Sedikit dendam aku menyamaratakan setiap guru, mereka tidak berhak sama sekali menyandang predikat Pahlawan Tanpa Tanda Jas! Toh mereka dibayar!

Memang dengan berlalunya waktu, marahku lenyap, dendamku menghilang, tapi sakit hatinya masih ada. Guru itu memang tidak menjadi wali kelas lagi, rupanya ada orangtua murid yang protes dengan nilai anaknya. Entah bagaimana perkaranya, orangtua murid itu merasa ada kesalahan dan ketidakadilan di sini. Dan begitulah, guru itu tidak menjadi wali kelas lagi dan syukurlah dia tidak mengajarku lagi.

Sekali lagi memang tidak semua guru di sekolahku itu mengecewakan. Aku juga menyukai dan menghormati beberapa guru. Kebaikan dan pelajaran yang ia ajarkan menjadi menyenangkan, meskipun ada beberapa guru yang kusukai itu mengajar pelajaran yang tidak kusukai. Aku selalu menanti saat-saat ia mengajar, membuatku bersemangat belajarnya.

Suatu hari, aku menemukan kenyataan yang membuatku merombak kesinisanku tentang guru. Demi kepentingan mendaftar kuliah melalui jalur bebas tes, kita diminta mengumpulkan fotokopi nilai raport dari kelas sebelas hingga semester terakhir. Itu berarti aku harus menemui wali kelasku yang dulu itu, guru yang itu, untuk mengambil raport asliku yang memang belum berada di tanganku. Karena waktu yang mendesak, malam itu aku ke rumahnya untuk mengambil raportku. Rumahnya jauh... Jauh dari sekolah. Dan kondisinya, maaf, setingkat lebih baik dari gubuk. Anaknya juga banyak, dan aku jadi merasa kasihan pada guru itu. Apakah ini dibalik alasan ia meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari mengajar?

Sebenarnya berapa gaji guru?
Apakah memadai untuk keberlangsungan hidup mereka? Toh guru pun butuh hidup, butuh makan dan memberi makan keluarganya, butuh menyekolahkan anak-anaknya...
Dan pendidikan itu mahal, sangat mahal di negara ini. Sehingga kita sering mendengar pendidikan hanya untuk orang-orang yang kaya.
Apakah ini dibalik alasan mereka melakukan "bisnis" disaat mengajar?
Sejujurnya aku mulai bertanya-tanya dan merasa kasihan, tapi tidak membenarkan metode ataupun perlakuannya.

Hey dan apakah aku pernah sebagai murid mengecewakan guru-guruku? Kurasa itu hal yang harus dipikirkan juga!!! 

Aku menyadari setiap hal pasti memiliki pelajaran di dalamnya. Melalui guru ini, secara tidak langsung, ia mengajariku untuk terlebih dahulu mengenal sesorang, memahaminya, dan mencoba berfikir berada diposisinya baru kemudian menilainya. Melaluinya aku belajar mengatasi rasa marah dan dendam... Dan memaafkan.
Untuk itu aku berterimakasih padanya.

Share It