Selasa, 29 Januari 2013

Lagu ini!





#Nowplaying Stay stay stay, Taylor Swift

I'm pretty sure we almost broke up last night
I threw my phone across the room at you
I was expecting some dramatic turn away but you stayed
This morning I said we should talk about it
Cause I read you should never leave a fight unresolved
That's when you came in wearing a football helmet
And said okay let's talk
And I said...

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay

Before you I only dated self indulgent takers who took all of their problems out on me
But you carry my groceries and now i'm always laughing
And I love you because you have given me no choice but to

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay stay stay stay

You took the time to memorize me my fears my hopes and dreams
I just like hanging out with you all the time
All those times that you didn't leave it's been occuring to me I would like to hang out with you for my whole life

Stay and I'll be loving you for quite some time
No one else is gonna love me when I get mad mad mad
So I think that it's best if we both stay stay stay stay

Stay stay stay i've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay stay stay stay

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay

Nb: Tiga hari lagi, Makassar aku pulanggggg..... *kangen*

Kamis, 24 Januari 2013

La Barka


La Barka
Oleh: Nh. Dini

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Desain dan ilustrasi sampul oleh Iksaka Banu
Lay-out isi oleh Sukoco

Cetakan pertama dan kedua (1975 dan 1976) diterbitkan oleh
Penerbit PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan ketiga (2000) diterbitkan oleh
Penerbit PT Grasindo

Cetakan keempat 2010

"Tetapi aku menghibur hati dengan berfikir bahwa orang hidup tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan."
_Rina

La Barka berisi catatan harian Rina, perempuan yang dibesarkan di sebuah yayasan yatim piatu. Perkawinannya dengan lelaki Perancis memberinya harapan akan kehidupan keluarga yang tenang dan berkecukupan, yang tidak pernah dia miliki. Namun harapan itu meleset. Kelahiran anak yang biasanya menjadi perekat hubungan suami-istri, justru menjadi neraka baginya kerena ternyata suaminya tidak menyukai kanak-kanak.
"Masyarakat telah memastikan bahwa dunia ini untuk pihak laki-laki."
_Rina

Merasa perkawinannya gagal, sambil menunggu proses perceraian, Rina pergi ke Provence, di Perancis Selatan. Di sana dia tinggal di La Barka, rumah Monique, sahabatnya. Di rumah inilah buku harian Rina tidak hanya berisi curahan hatinya kepada kekasihnya, melainkan juga cerita tentang tamu-tamu yang bergantian datang berkunjung atau menginap, masing-masing dengan sifat dan perilaku yang berbeda, serta berbagi peristiwa yang terjadi di sana.

Di sana, La Barka, ia juga bertemu dengan Robert. Lelaki terpelajar, lembut, dan baik hati yang tujuh tahun lebih muda darinya itu terpikat oleh pesona ke-Timuran-nya.....
"Dari anak-anak itulah orang dapat melihat kesanggupan seseorang mendidik dan membesarkan bayi menjadi manusia yang baik. Dari anak-anak pula kita dapat mengetahui bagaimana orangtua mereka, cara hidup serta tanggapan orangtua mereka terhadap masyarakat."
_Rina
*****
Ini buku pertama karya Nh. Dini yang saya baca. Setelah sekian lama hanya memandang karya-karyanya di rak buku sastra di Gramedia, akhirnya saya memiliki satu buku ini dan berkesempatan membacanya. La Barka sendiri bisa dikatakan bacaan yang cukup ringan, ceritanya terbilang sederhana. Berisi seputar kehidupan seorang perempuan dengan orang-orang lain disekitarnya. Melalui buku ini kita diajak menyelami kehidupan dan pemikiran perempuan yang sedang menanti perceraian dan berada jauh dari tempat kelahirannya. Bagaimana ia "menilai" pergaulan orang-orang Barat dengan kacamata ke-Timuran-nya, bagaimana ia mencintai, dan bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Bagi yang tidak menyukai sastra atau buku yang terlalu banyak memuat deskripsi, saya sarankan untuk tidak membaca buku ini. La Barka sangat syarat dengan deskripsi yang saya sangat sukai dari sebuah buku. Deskripsi itulah yang mengajak kita turut merasakan kehidupan di Perancis Selatan, teutama di La Barka. Saat membacanya saya dapat "melihat" rumah itu beserta kebunnya di depan saya.

Karena buku ini pertama kalinya terbit pada tahun 1975, bahasa di dalamnya teramat baku. Ada beberapa kata atau kalimat yang harus saya baca beberapa kali hinggah mengerti. Gramedia juga terkadang typo menuliskan beberapa kata...

"Seorang laki-laki memiliki seribu kemungkinan untuk memuaskan diri. Mereka bisa pergi ke pelosok mana pun dan berkesempatan menemukan apa yang mereka butuhkan. Mereka bisa pergi ke mana pun pada waktu apa pun untuk kepuasan sejenak mengelus-elus tubuh-tubuh pasangannya dengan membayar sejumlah uang. Kepanasan yang bergolak di tubuhnya dapat dilepaskan bersama naluri yang terpuaskan, kepuasan mutlak yang sejak manusia mengenalnya, merupakan satu dari kebutuhan-kebutuhannya seperti juga makan, minum, bergerak dan bernafas."
_Rina

"Kematian ada bagi setiap mahluk. Itu kuanggap sebagai sesuatu yang wajar, karena sesuatu yang mulai selalu harus ada akhirnya. Seperti dalam banyak hal, pada mulanya orang menyesali keakhiran tersebut. Tetapi dalil alam mengimbanginya dengan kesembuhan atau kebahagiaan."
_Rina

Negeri di Atas Awan

Apa kabar Gadis Kecil?
Masihkah kau duduk di depan jendela?
Memandangi hujan yang berjatuhan laksana tirai permata,
atau lalu-lalang manusia yang tiada henti di luar sana.

Keluarlah...
Mari kita terbang menembus awan gelap yang akhir-akhir ini bergelayut manja di atas sana.
Terbang
dan terus terbang...

Telah kubangunkan kau sebuah negeri di atas awan.
Sebuah negeri yang damai dan tenang.
Tempat di mana kita bisa menyepi dan menikmati diri.
Melakukan hal-hal yang kita inginkan dan sukai.
Tanpa ada yang akan melarang...

Tiada agama,
tiada hukum,
tiada nilai,
dan tiada norma yang akan mengekang dan mengatur kita.

Kita bebas!
dalam artian yang sebenar-benarnya.

Telah kupadatkan lautan awan,
dan kubangunkan kastil putih nan megah..
tempat di mana kita bisa lari dan bersembunyi
menjauh dari dunia
yang dari hari ke hari semakin kejam.

_ 15 Januari 2013, di atas pesawat menuju Samarinda

Jumat, 18 Januari 2013

Dari Makassar ke Balikpapan Kemudian ke Samarinda

Selasa 15 Januari 2013

Hari ini untuk pertama kalinya saya naik pesawat Citylink, terbang menuju Balikpapan, menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan dan menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam naik mobil ke Samarinda. Pagi sekitar jam delapan saya sudah bangun, mandi, dan segera menuju Bandara Hasanuddin diantar oleh sepupu. Hari itu Makassar masih diselimuti hujan deras dan angin kencang, menimbulkan perasaaan was-was di hati saya. Bagaimana kalau? Bagaimana jika? Mungkin inilah resiko menjadi seorang penghayal, terlebih penghayal yang mampu memproyeksikan khayalannya sehinggah seperti menonton adegan film di depan mata.

Sesampai di bandara, saya segera menuju "kantor" Citylink, menunjukkan KTP dan nomor bookingan tiket. Setelah tiket sudah di tangan, tanpa berlama-lama saya ingin segera masuk dan membayar boarding pass dan menyerahkan koper saya untuk di simpan di bagasi pesawat, dan menunggu dengan santai di ruangan tunggu bandara, tapi seorang ibu meminta tolong agar saya bersama-sama dengan putranya yang mungkin baru kali ini naik pesawat seorang diri. Saya memelankan langkah agar pemuda itu tidak kehilangan jejak ku, sedikit geli sebenarnya, soalnya lelaki itu bukan anak kecil lagi. Dari tampangnya ia sepertinya anak SMA atau kuliahan... Yiahhh ini mungkin kali pertama ia bepergian seorang diri atau mungkin ia baru kali ini naik pesawat. Apapun itu, dari semenjak memasuki bandara hinggah turun dari pesawat ia mengikutiku terus seperti anak ayam. Dan tidak ada perbincangan diantara kami, hanya sesekali saling melemparkan senyum. Saat itu saya sedang "kedatangan tamu", tidak mood berbincang dan berbasa-basi. Mungkin juga saya ini antisosial?

Di ruangan tunggu Gate 2, saya duduk nyaman (laki-laki itu duduk manis di sampingku) sambil online dan mengawasi pemandangan dari jendela. Hujan masih turun, meskipun tidak deras. Saya menduga pesawat akan di delay (seperti biasanya), dan saya masih akan lama duduk menunggu di sini. Ternyata pesawat tiba tepat waktu, meskipun kami harus berpindah ke Gate 4. Wah seumur hidup, ini pesawat pertama yang saya naiki tidak di delay. Mungkinkah pesawat Citylink memang selalu ontime?

Di atas pesawat, saya duduk di seat 21A, tepat di samping jendela. Syukurlah, saat ke Jakarta tahun lalu, saya duduk di tengah di antara dua bapak-bapak super gendut. Sungguh sial rasanya saat itu. Kali ini di sampingku duduk seorang anak kecil hiperaktif dan super nakal bersama bapaknya yang pendiam, saking pendiamnya dia kelabakan mengurus anaknya. Anak kecil itu melompat-lompat, berteriak-teriak, dan membuka terus seatbelt-nya, juga membuka-tutup meja di depan kami. Sebenarnya saya tidak terganggu oleh ulah anak kecil itu, saya paham pasti sulit bagi jiwa kecil itu untuk duduk manis, diam, dan "diikat" di atas kursi. Yang membuatku tidak tahan adalah bau kakinya!!! Kenapa anak kecil berbau kaki sedahsyat itu? Sungguh sangat memualkan! Saya memalingkan wajah terus-terusan ke arah jendela, berharap ada angin segar yang berhembus, meskipun tidak mungkin.


Setidaknya akibat tidur jam empat subuh saya sangat ngantuk dan segera tertidur meskipun si anak kecil masih sibuk berteriak-teriak dan penumpang pesawat lainnya masih mengoceh dalam berbagai dialek dan bahasa yang tidak kupahami. Saya terbangun saat pesawat telah berada di atas Makassar dan mengalami turbulensi parah. Pesawat terguncang-guncang hebat, dan dari jendela kulihat sekeliling gelap, sangat gelap. Kupikir saat itu kami sedang menembus awan gelap yang semenjak awal tahun mengelayuti Makassar. Penumpang saat itu serentak terdiam, bahkan anak-anak kecil yang menangis dan mengoceh pun terdiam, juga anak kecil di sampingku tiba-tiba duduk manis sambil memeluk lengan bapaknya erat. Kulihat wajahnya memucat, dia sangat ketakutan. Aku mendapati saat itu terasa menggelikan tapi tidak mampu tertawa. Khayalanku mengambil alih dan satu pikiran yang terus ada; sayang sekali aku sudah dua hari tidak bertemu lelaki mentariku...

Setelah sukses menembus awan gelap, penerbangan itu terbilang biasa saja, kecuali bau kaki anak kecil di sampingku yang masih begitu mengganggu. Tidak lama rupanya penerbangan dari Makassar ke Balikpapan, hanya memakan waktu kurang lebih lima puluh menit. Pesawat pun mendarat di bandara Sepinggan. Bandara Sepinggan terletak di tepi pantai dan sedang dalam tahap perbaikan saat ini.

Setelah mengambil koper saya bertanya pada petugas bandara di mana counter mobil travel yang akan mengantar saya ke Samarinda. Sebelumnya sepupuku sudah berpesan untuk hanya menaiki mobil travel Cipaganti atau Kangaroo, yang lebih aman dan terpercaya katanya (bukannya mobil travel yang lainnya tidak aman, ternyata hanya karena dua mobil itu yang selalu ia naiki). Petugas menunjukkan counter mobil travel Kangaroo dan saya pun segera membeli tiketnya. Tiketnya seharga seratus ribu rupiah. Saya bertanya-tanya sejauh apa jarak Balikpapan-Samarinda itu.

Naik mobil ke Balikpapan dari Samarinda ternyata memakan waktu tiga jam. Lebih dekat dari jarak Makassar ke Pare-pare, cukup mahal juga harga tiketnya jika dibandingkan BMA (mobil travel di Makassar) yang hanya enam puluh lima ribu rupiah ke Pare-pare. Sudah itu tidak disediakan cemilan atau setidaknya air putih pula...

Mobilnya baru berangkat jam 13.30, saya masih punya waktu sekitar dua jam untuk makan. Setelah makan pun, masih tersisa waktu setengah jam sebelum mobil berangkat, maka saya mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku. Di depan pintu keberangkatan, sekelompok bapak-bapak sedang duduk sambil merokok. Saya berasumsi mereka pekerja pertambangan yang mendapatkan jatah liburan sehingga akan pulang kampung. Dan di dalam ada serombongan gadis bertampang tua (tidak ada maksud menghina) berdiri sambil menenteng tas yang cukup besar. Dari logat bicaranya, sepertinya mereka orang Jawa. Mungkinkah mereka calon TKW?

Jam 13.30 datang dan berlalu, mobilnya belum terlihat sama sekali. Mungkinkah saya menunggu di tempat yang salah? Saya bertanya pada satpam, dan betul, ini tempat yang seharusnya. Lalu dimana mobil travel tersebut? Ahhh saya terbuai dengan ketidak-delay-an pesawat tadi. Indonesia... Apa si yang tidak lelet?!! Jam 14.00, mobilnya baru datang. Untungnya setelah semua penumpang naik, mobil pun langsung berangkat. Sepanjang jalan yang berbukit-bukit dan berkelok-kelok saya melihat rumah-rumah panggung dengan pohon rambutan yang buahnya telah mulai ranum, mengingatkan saya akan kebun mertua yang telah lama tidak saya kunjungi. Mengapa saya merasa serindu ini? Saya kemudian tertidur, tidur yang lama dan pulas, saya baru terbangun saat telah melewati jembatan di atas sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda.

SAMARINDA!!!!! AKU DATANG....

#Nowplaying Walking-SuJu

Rabu, 09 Januari 2013

Bagaimana Caramu Menikmati Hujan?



Ada banyak cara menikmati hujan. Salah satunya seperti yang kulakukan saat ini. Menikmati suaranya yang menghantam atap rumah sambil membaca buku dan ditemani segelas susu hangat dicampur madu. Suara hujan mengantarku bertualang ke negeri yang diciptakan oleh Cornelia Funke. Menjelajahi Inkworld bersama Meggie dan Farid, Mo dan Resa, Elinor dan Darius, serta Staubfinger dan musangnya yang bernama Gwin.
Aku hanyut dalam aliran hujan dan tenggelam dalam halaman demi halaman kata-kata yang terjalin satu di dalam buku itu.
Bukankah hidup itu indah?
Akankah di akhirat nanti hujan dan buku yang bagus akan ada juga?

Smile

Tahun ini aku hanya ingin lebih banyak tersenyum. Pada kebahagiaan maupun kesedihan. Aku ingin menghadapi semuanya dengan senyum, membuatnya mudah. Tentu saja akan selalu ada air mata. Aku menyukai menangis. Menangis itu seperti mengalirkan amarah, kepedihan, dan kesedihan pada tanah di bawahku, melegakan. Setelah menangis aku akan kembali tersenyum, menghadapi hari dengan lebih kuat dan bahagia.

Smile though your heart is aching
Smile even though it's breaking.
When there are clouds in the sky
you'll get by.

If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll see the sun come shining through
For you.

Light up your face with gladness,
Hide every trace of sadness.
Although a tear may be ever so near
That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying.
You'll find that life is still worthwhile-
If you just smile.
_Smile by Charlie Chaplin




Share It